Seperti yang dijelaskan oleh ketua Pemulung Sampah Gaul ini, bahwa nama “gaul” merupakan ketidaksengajaan karena kalau hanya Pemulung Sampah saja kurang keren dan tidak menarik (baca: gaul). Maka kemudian melekat nama “gaul” hingga mereka menunjukkan keberadaannya terhadap orang-orang sekitar.
Bukan saja memberikan pemahaman kepada penghuni pesantren saja (santri), akan tetapi mereka mampu memberikan wawasan hingga keluar dari lingkungan pesantren. Hal ini dilakukan agar peduli sampah menjadi karakter yang tidak terpisahkan dari generasi-genarasi yang ada. Bagaimanapun, para generasi muda harus mengetahui dan memahami persoalan sampah yang tidak sederhana ini.

PSG setidaknya mengelola tiga tim dalam penyelesaian masalah sampah. Yaitu tim pangan lokal, tim sampah plastik, dan tim pupuk organik. Setiap setengah bulan, masing-masing tim PSG berkumpul membahas bidang masing-masing. Tim pangan lokal bicara mengenai makanan lokal dan pengolahan, tim sampah plastik berbicara mengenai bahan pengendalian plastik, dan tim pupuk organik berinovasi membuat pupuk dari tumpukan sampah organik.
PSG juga berupaya untuk menerapkan nol sampah plastik. Penerapan ini diawali di lingkungan SMA 3 Annuqayah sendiri. Di kantin sekolah diupayakan tidak menggunakan plastik sebagai bungkus makanan. Akan tetapi menggunakan bahan organik yang ramah lingkungan, seperti daun pisang, daun jati, dan sebagainya. Meskipun awalnya cukup menyulitkan, tetapi akhirnya tujuan nol sampah plastik itu menuai hasil dan sukses.
Seandainya Pesantren Wali Songo di Lampung Utara itu menerapkan peduli sampah sebagaimana di SMA 3 Annuqayah, mungkin persoalan sampah tidak akan sampai menjadi polemik dan perseteruan dengan warga sekitar. Sebenarnya, jika diupayakan selalu ada jalan dalam setiap persoalan. Kullu mas’alatin thoriqun ilal khoir, (pada setiap masalah selalu ada jalan keluar menuju kebaikan).
Dan tentu saja, duduk bersama mencari jalan keluar secara kekeluargaan merupakan jalan yang paling baik. Hubungan sosial kemanusiaan akan selalu dalam kebaikan dan kemaslahatan jika setiap persoalan dimusyawarahkan. Bukan mencari kambing hitam, akan tetapi berusaha untuk menyelesaikan problematika dengan semangat persaudaraan, persatuan, dan kesatuan.
