Pesantren dan Propaganda Anti-Filsafat

Filsafat sendiri memiliki tiga tugas utama. Pertama, memperjelas konsep. Filsafat mengajarkan bahwa sebelum menilai sesuatu, maka terlebih dahulu kita harus memahami gagasan tersebut dengan terang benderang. Kedua, mengkritisi. Setelah konsep dipahami, barulah kita mulai untuk mengkritiknya. Ketiga, membangun argumen. Karena kritik yang kuat tentu haruslah didasari dengan bangun argumen yang kuat pula.

Tiga hal tersebut tak selalu soal mengkritisi orang lain. Tapi juga bisa digunakan untuk mengkritisi diri sendiri. Mulai sekarang perjelaslah “konsep” tentang diri sendiri. Pertegas dan perjelaslah diri kita sedang berada di posisi yang mana? Baikkah? Atau burukkah? Setelah itu mulailah mengkritik. Jika buruk, kritiklah! Jika baik tapi tidak sesuai, kritiklah! Setelah mengkritik, mulailah melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu membangun argumen. Bangun solusi untuk masalah dan problem yang telah dikritisi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Seperti itulah esensi sebenarnya dari berfilsafat. Berfilsafat berarti ingin memahami lebih dalam tentang konsep yang manusia hadapi, termasuk manusia itu sendiri. Dengan demikian, ungkapan para filsuf “alam itu qidam” adalah salah satu hasil dari proses berfilsafat tersebut. Dan tentu kita tidak harus mengikutinya. Kita  juga bisa mengkritisi ungkapan tersebut dengan cara yang sama pula.

Dari sini, kiranya dapat dimengerti bahwa filsafat tidak pernah mendorong orang menjadi sesat. Sebaliknya, ia datang dengan tujuan yang juga dibawa oleh agama, yaitu: pencerahan. Filsafat mengajak untuk merenung dan berpikir lebih dalam, sebagaimana hal itu juga diperintahkan oleh teks-teks agama.

Tinggalkan Balasan