Artinya, untuk mendekati masyarakat dan berbaur dengan masyarakat, sebagai warga pesantren seharusnya tidak menutup diri dengan tradisi yang ada di lingkungan masyarakat, selagi tidak menyalahi ibadah mahdloh.
Hal ini menjadi salah satu bentuk dakwah pesantren Baitul Karim, agar setiap elemen masyarakat, golongan apa pun, atau organisasi apa pun bisa masuk dan berbaur dengan satu tujuan, yaitu kemaslahatan umat.

Apakah tidak ditentang? Tentu banyak yang pro dan kontra. Begitulah kehidupan. Tetapi perlu kita anggap biasa-biasa saja. Karena puncaknya adalah keindahan dan cinta. Semakin didekati dengan cinta, maka langkah dan goalnya adalah keindahan.
“Gusti Allah itu suka keindahan. Jadi jangan dibuat kondisi hari ini menjadi suram oleh ragam berita dan ketakutan-ketakutan. Buatlah menjadi proses yang indah, karena semakin legawa dan pasrah kepada Tuhan yang dibarengi dengan usaha yang maksimal, maka cinta-Nya akan membuat keindahan dalam kehidupan kita,” demikian pesan Kiai Ahmad Fahrurrozi sebelum menutup doa bersama.
Dari sini saya melihat, bahwa pesantren adalah bagian dari kehidupan sosial, subjeknya adalah masyarakat, lembaganya adalah kehidupan, sehingga perlu kiranya antara pesantren dan masyarakat bersinergi dengan baik. Tidak mementingkan dan menonjolkan ego masing-masing.

Mantab, semoga bermanfaat untuk masyarakat.
Amin yarabbal alamin,
Pesantren dan masyarakat memang bagaikan dua sisi mata uang, saling memberikan ketergantungan (kemanfaatan) antara satu dengan lainnya. Jika terjadi kontra antara pesantren dengan masyarakat, bisa dipastikan eksistensi pesantren tersebut akan menuai problematika sosial.
Betul kang, karena melalui sejarah panjang perjuangan dan lahirnya peradaban di Nusantara ini tidak lepas dari kerjasama kyai-kyai Islam dengan masyarakat luas, artinya ada peran pesantren juga. Dan hal itu sampai hari ini masih bisa dilacak kesejarahannya, dari 1905.
Itu yang langsung bersinggungan dengan kepentingan orang banyak, sedang perjalanan pesantren dan masyarakat yang majemuk ini tentu sejak atau bahkan sebelum wali Sanga datang ke nusantara.
Masya Allah…Pesantren yg peduli terhadap masyarakat.
Kalau dalam istilah Jawa “Nunggak Semi” harapannya adalah tumbuh lagi semangat sosial yang diwariskan para wali di masa lalu, berbaur dengan masyarakat.