Pesantren dan Relasi Sosialnya

Akhirnya, masyarakat berbondong-bondong untuk membuat gerakan “Uang Syukur”, yang mana dari kembalian hasil belanja atau beli rokok, lalu dititipkan di lumbung pangan tersebut. Pusat kontrolnya adalah pesantren. Mengapa? Karena setiap seminggu sekali di masa pandemi ini, berbondong-bondong masyarakat dan santri untuk berkumpul bersama dan membaca Burdah.

Tepat pada acara tersebut, mereka menyetorkan “Uang Syukur” kepada pengelola KUD. Hal ini cukup membawa dampak positif. Karena, akhirnya, masyarakat terbantu. Misalnya, bisa  membeli beras dengan harga yang sangat murah. Pun, boleh utang tanpa ada tenggat pengembaliannya jika memang benar-benar tidak memiliki uang untuk membeli— bahkan dilebihi sedikit oleh pengelola.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Artinya apa? Peran pesantren ketika berbaur dengan masyarakat dampaknya sangat luar biasa. Di satu sisi pesantren sebagai penggerak, di sisi lain masyarakat pun pada hakikatnya adalah penggerak juga. Cuma objek sosial hari ini jelas, yaitu masyarakat. Sedangkan pesantren adalah mobilisatornya.

Siang itu, Kiai Fachrurrazi Karim berpesan kepada masyarakat, “Jangan takut-takut dengan wabah, tapi jangan terlalu berani juga. Belajar mengontrol diri, belajar usaha dan pasrah, lalu kita bareng-bareng berdoa kepada-Nya.”

Pesan itu diterima dengan khidmat, bahkan masyarakat yang erat dengan masalah uborampe atau semacam nasi kuning dengan berbagai lauk di tampah, ternyata tidak ditentang oleh Kiai. Justru, Kiai memberikan masukan, kalau bisa di hari ke-41 nanti buat tumpeng yang besar. Lalu membaca Fatihah untuk Syeikh Subakir yang disebutnya numbali tanah Nusantara.

7 Replies to “Pesantren dan Relasi Sosialnya”

Tinggalkan Balasan