Karena itu, santri juga harus dilatih untuk menjadi pelopor literasi digital. Mereka tidak hanya dididik tentang agama, tetapi juga dididik untuk memilah informasi, membedakan hoaks, dan memahami konten yang mengandung kebencian. Dengan demikian, santri dapat menjadi garda depan dalam melawan narasi radikalisme dengan bekal ini.
Bayangkan jika santri membuat konten yang positif. Mereka dapat menawarkan perspektif Islam yang penuh kasih melalui tulisan, video, atau infografis yang menginspirasi. Pesantren juga dapat berfungsi sebagai pusat edukasi digital untuk masyarakat, membantu mereka menggunakan dunia maya dengan benar.

Pelarangan atau caci maki tidak cukup untuk memerangi radikalisasi. Islam adalah agama yang berpusat pada kasih sayang dan cinta. Pesantren harus menggunakan pendekatan yang lembut, penuh pemahaman, dan menekankan bahwa Islam tidak memusuhi siapa pun.
Kemampuan adaptasi juga penting bagi pesantren. Teknologi harus digunakan untuk melakukan dakwah. Sekarang ceramah dapat disampaikan melalui YouTube, podcast, atau media sosial daripada sebelumnya hanya di masjid. Studi sekarang tidak hanya ditulis dalam buku, tetapi juga diposting di blog atau platform digital lainnya.
