Pesantren: Pertahanan Terakhir Ancaman Ekologis*

Meski begitu, tampaknya, masalah ekologi menjadi persoalan besar yang bukan hanya dapat ditanggung perorangan atau kelompok masyarakat saja. Tetapi, oleh semua manusia di muka bumi ini. Jika boleh berpijak pada hadis yang saya kutip di awal, konsep yang ditawarkan oleh rasul berlandaskan pada persoalan memberi.

Kalimat “…melainkan itu menjadi sedekah baginya.” Dalam hadis tersebut, berupaya merangsang pola pikir kita menjadi manusia murni. Manusia yang berlaku adil terhadap segala hal yang melingkupinya. Sehingga jika itu dilakukan, akan ada ganjaran yang menanti.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kendati demikian, agaknya, iming-iming ganjaran tidak membuat hati setiap orang terenyuh. Atau dapat memadamkan hasrat tamak yang kadung melekat dan mengiringi setiap manusia. Dan hasrat tersebut diperkuat dengan proyek-proyek gagasan kapitalis yang membuai dan melenakan. Sempurnalah persoalan yang dihadapi manusia post-modern ini.

Orang-orang yang terkungkung proyek kapitalistik, agaknya tak memikirkan betul hubungan ulang-alik antara manusia dengan alam sehingga mereka dengan mudah mengeksploitasi alam. Hubungan ini, yang telah disinggung Rasul dengan upaya membiasakan diri menanam pohon, agaknya dipandang sebelah mata.

Soekarno, dalam sebuah dialog sengit dengan DPR beberapa saat sebelum negeri ini kisruh, pernah berujar, “Kita, sebagai negara demokrasi, perlu alat demokrasi.” Saya sebenarnya tidak terlalu berminat membicarakan ini, tetapi, dalam ungkapan Sang Proklamator Kemerdekaan itu, saya menangkap sesuatu hal yang lain.

Betul, kita perlu sepakat bawah bangsa Indonesia yang selalu bergairah ini, yang memiliki kekayaan alam melimpah ini, perlu demokrasi. Dan poin penting yang ingin saya bahas adalah: betapa demokrasi, menitikberatkan kesejahteraan kepada rakyat.

Tinggalkan Balasan