Pesantren: Pertahanan Terakhir Ancaman Ekologis*

Artinya, rakyat memiliki prioritas cukup tinggi terhadap tetek-bengek kebijakan yang hadir dalam pemerintah. Dan rasa-rasanya, gagasan mengenai tambang yang diberikan pemerintah terhadap beberapa organisasi masyarakat berbasis keagamaan baru-baru ini menjadi polemik yang sangat mengganggu masyarakat agama.

Kita bisa asumsikan ajakan tersebut sebagai manipulasi terhadap betapa pemerintah nantinya, akan lebih memforsir lahan-lahan yang memiliki potensi tambang baru. Dan akhirnya jika itu terjadi, habitat flora dan fauna yang tadinya bahkan diperhatikan dengan baik oleh terminologi agama, terancam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika begitu, saya boleh menyebut bahwa angan-angan kita mengenai kepercayaan atau keimanan yang terus dipelihara sejak masa Rasul seribu tahun lebih, sedikit demi sedikit tergerus. Dan sialnya, itu terjadi karena organisasi masyarakat kita, yang memiliki basis keagamaan kuat itu, tergoda dengan konsep-konsep kapitalis.

Hubungan konkret antara kita sebagai manusia beragama dan iman sebagai kepercayaan, makin mengerdil. Saya rasa, kelompok-kelompok masyarakat yang masih sadar akan hubungan intim antara kita dengan alam sudah banyak dilakukan. Tetapi yang boleh saya sarankan, mari kembali lagi kepada konsep yang kita yakini di dunia pesantren. Agaknya tak berlebihan jika saya menyebut dalam awalan tulisan ini, bahwa pesantren dan orang-orangnya-lah yang menjadi pertahanan terakhir terhadap persoalan ekologi yang makin mengkhawatirkan ini.

Mari kembali menjadi santri. Seorang santri yang tidak neko-neko. Seorang santri yang berkeinginan betul menerapkan apa-apa yang diajarkan dunia pesantren terhadap kehidupan dan keberlangsungan hidup sehari-hari.

*Naskah peserta Lomba Karya Tulis Ekologi Kaum Santri dengan judul asli “Iman dan Kita”.

Tinggalkan Balasan