Meskipun demikian, hal ini juga untuk menjamin kualitas akademik mereka yang bergantung terhadap rasa aman dalam menjalani hidup di lingkungan pendidikan yang sedang ditempati. Berangkat dari hal ini pesantren memerlukan rancangan yang dapat mengawal kehidupan para santri.
Program Pesantren Ramah Anak diharapkan dapat menjadi senjata pamungkas dalam menangani masalah ini. Sebagai sebuah hipotesa program ini merupakan tindakan preventif yang juga menjanjikan kemajuan kualitas akademik santri. Bahkan di satu sisi ia juga bisa dikatakan sebagai pembuka peluang untuk menggapai target pendidikan yang berkualitas. Berangkat dari hal itu kita perlu mengukur sejauh mana program pesantren ramah anak ini dapat memaksimalkan peluang yang dimiliki pesantren.

Lahirnya Generasi Emas
Kebutuhan untuk merancang lingkungan pendidikan yang menjamin keselamatan siswa berasal dari kurangnya kemampuan mereka untuk menjamin keselamatan pribadi. Di sisi lain, pendidikan ditargetkan mereproduksi generasi yang layak (siap menciptakan kondisi aman eksternal untuk diri mereka sendiri).
Dalam hal ini, lingkungan pendidikan merupakan faktor pendidikan yang dalam perspektif spasial-temporal menentukan keselamatan individu dan pembangunan berkelanjutan masyarakat dan negara. Karenanya, perlu ada langkah-langkah radikal yang dapat menjamin keselamatan peserta didik.
Program “Pesantren Ramah Anak” adalah salah satu langkah yang coba ditawarkan oleh Kementerian Agama (Kemenag). Sebagai pihak yang menaungi seluruh satuan lembaga pesantren di Indonesia, Kemenag sudah melakukan tugasnya. Yang perlu diteliti adalah sejauh mana ia efektif menjamin keselamatan para santri, melihat target ideal yang dituju yang diiringi oleh hadirnya faktor-faktor kekerasan di pesantren lebih masif daripada di luar.
Martynova (2017) menegaskan bahwa dalam pedagogi dan psikologi, keselamatan sebagai properti lingkungan pendidikan tercermin dalam berbagai konteks: lingkungan pendidikan yang berkembang; lingkungan pendidikan yang aman secara psikologis (aspek psikologis pengaruh lingkungan pendidikan); lingkungan pendidikan yang aman secara ekologis, aman secara fisik, dan menyelamatkan kesehatan (aspek fisik pengaruh pendidikan).
Tiga konteks tersebut sudah tertulis dalam panduan program “Pesantren Ramah Anak”. Pertama, lingkungan pendidikan yang berkembang. Telah kami tegaskan bahwa pesantren memiliki peluang yang sangat besar dalam mencetak generasi emas. Namun di satu sisi di dalamnya juga terdapat faktor-faktor yang dapat menimbulkan kekerasan, seperti keberagaman para santri yang rentan menarik konflik.
Lingkungan pendidikan berkembang sudah ada sejak dalam dirinya. Hal ini juga berangkat dari kemajemukan para santri dari berbagai identitas. Di satu sisi, ada doktrin-doktrin toleransi yang menyeluruh ke semua aspek aktivitas santri. Pasalnya, santri belajar fikih yang sangat terbuka pada perbedaan pendapat. Ini tidak hanya terjadi dalam dunia ide mereka, melainkan juga terjadi dalam ruang gerak riil aktivitas keseharian mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk menjadi pribadi yang sangat akrab dengan kedamaian.
Nah, hadirnya program Pesantren Ramah Anak adalah untuk mempertahankan nilai positif keberagaman dan menekan potensi konflik yang mungkin terjadi darinya. Dengan itu, lingkungan pendidikan yang berkembang bisa muncul di kalangan para santri.
Lyubоv (2019) menegaskan bahwa objek pengaruh seorang guru bukanlah siswa, kualitas dan perilakunya, melainkan kondisi dan lingkungan aktivitas kehidupannya. Inilah yang perlu dilakukan seorang pendidik dalam menjamin perkembangan pendidikan yang ditempuh peserta didik.
