Pesantren: Ruang itu Ingin Diberi Makna Baru

Para alumnus pesantren tersebut adalah diri-diri yang eksklusif. Subjek-subjek yang teralienasi dari realitas diri mereka. Mereka adalah pengusul statemen “Pasar Genjing adalah pasar syariah”. Tidak ada masalah dengan statemen itu. Namun demikian, pengartikulasian statemen itu justru semakin mengokohkan diri yang kosong pada subjek diri para alumni santri itu. Terartikulasi sebuah konsep solid dari sebuah gerakan tertentu.

Para alumni santri itu boleh saja memperkenalkan diri mereka sebagai alumni pesantren salafiyah. Apa daya, mereka hanya dapat menjadi corong sebuah gerakan politik yang menggunakan kultur sebagai medan gerakan; yaitu Salafi cum Wahabi. Para alumni pondok pesantren tersebut hanyalah para aktor, kalau tidak dapat dikatakan boneka, yang dibentuk oleh sutradara/penulis skenario untuk menyampaikan gagasan revivalismenya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pesantren sebagai sebuah ruang sejatinya bukan sebuah ruang yang dikompetisikan. Sejak lama, pesantren adalah ruang yang telah diterima atau diperceived oleh masyarakatnya. Gus Dur mengatakan bahwa pesantren adalah sebuah subkultur. Pesantren bukan ruang eksklusif yang teralienasi dari masyarakat sekitarnya. Pesantren harus hidup atau to live dan menghidupi atau to be lived di dan dalam masyarakat.

Tinggalkan Balasan