Maknanya, segala keputusan yang diambil sebenarnya dipertimbangkan dengan dan demi kebaikan. Hanya, terkadang porsi yang ditawarkan kurang tepat dengan realitas sekarang. Sudah selayaknya pesantren-pesantren salaf juga melihat dunia luar.
Sistem kuno yang dianut oleh pesantren salaf rupanya menyita banyak perhatian masyarakat. Tak jarang ia juga melahirkan respons negatif masyarakat. Salah satunya mengenai anggapan bahwa pesantren salaf lebih rentan tejangkit radikalisme.

Jika dilihat secara sepintas, argumen tersebut bisa jadi terimbas dengan kejadian sekarang. Sebab, pada kenyataannya, beberapa pesantren salaf hanya membekali santrinya ilmu agama, tanpa diimbangi ilmu umum sama sekali. Sehingga, pesantren salaf bisa menjadi sasaran empuk paham tersebut. Di lain sisi, keangkeran radikalisme dalam menanamkan doktrinasi semakin menjadi-jadi. Inilah bahayanya.
Namun, untuk membuang kemungkinan dan stigmasi tersebut (seperti radikal dan kolot), ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Beberapa di antaranya, pertama, dikarenakan objek kajiannya kitab kuning, maka pesantren salaf fokus meng-upgrade pembelajaran, semisal mengusung metode cepat membaca kitab kuning. Sehingga, daya tarik masyarakat akan meningkat. Selain itu juga, kitab-kitab yang digunakan sebaiknya juga ditambah dengan kitab-kitab kontemporer. Sehingga pembahasannya pun segar dan tidak rigid.
Kedua, mendirikan bahtsul masail yang membahas isu kontemporer. Sebagaimana yang lumrah, bahtsul masail biasanya membahas isu problematik untuk melahirkan kesimpulan hukum dengan cara diskusi ala santri. Realitas yang diangkat biasanya yang aktual.
Dengan itu, santri salaf tidak hanya terkungkung dalam pembahasan yang monoton, namun juga membuka ruang berpikirnya pada hal yang lebih kompleks. Dari bahtsul masail ini juga, ilmu yang dipakai tidak melulu ilmu agama, kesimpulan hukum pasti juga disandarkan kepada beberapa ilmu lain, seperti sains, medis, dan lainnya. Tergantung pada tajuk isu yang diangkat.
Ketiga, tetap menanamkan semangat nasionalisme dalam diri santri. Tidak harus dengan upacara sebagaimana yang dilakukan lembaga negeri atau swasta pada umumnya. Bisa diaktualisasikan dengan karakter pesantren salaf. Sebab, esensinya adalah menanamkan nasionalisme dan menyingkirkan benih radikalisme.
Sehingga kemudian tidak ada lagi stigma negatif atas pesantren salaf. Pesantren salaf juga bisa dipandang dan memiliki vibes kuat. Selain itu, pesantren salaf juga tetap pada porosnya (baca:karakter), namun juga tidak menutup cahaya dunia luar. Ini sebenarnya yang diharapkan. Wallahu a’lam.

adem… lihatnya