Al-Quran sebagai dasar Islam yang tidak lepas dari akademik pesantren, lahir untuk menjawab tantangan sastra. Di zaman praislam, sastra merupakan bagian dari keseharian orang-orang Arab. Maka jika kemudian turun ayat-ayat Al-Quran, hal itu merupakan jawaban atas paradoksial sastra di masa lalu. Dan puncaknya, tidak ada teks sastra yang mampu menandingi entitas literasi Al-Quran.
“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang apa (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad), buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 23)

Menyambut Pendidikan Sastra
Mungkin, tidak semua individu setuju dengan program Sastra Masuk Kurikulum. Dengan berbagai alasan. Dengan ragam pemahaman. Dengan dasar-dasar pemahaman yang tidak seragam. Tetapi, melihat nilai-nilai sastra yang berkeadaban, bukan tidak mungkin program ini berdampak positif bagi peserta didik.
Dasar pokok sastra yang merupakan sublim dari nilai-nilai peradaban, menjadi alasan kuat untuk menjemput program ini menjadi bagian dari kurikulum. Apresiasi yang paling tinggi harus kita lakukan dengan semangat membangun nilai-nilai luhur peradaban. Karena hakikat ikhtiar adalah validitas norma logika untuk melahirkan dekonstruksi karakter anak bangsa. Sehingga, harapannya dengan program ini kita bersemangat untuk inovasi peradaban.
Menyambut sastra dalam kurikulum menjadi paradigma merekonstruksi karakter peserta didik. Karena dengan nilai-nilai sastra yang telah dibangun oleh maestro sastra (sastrawan), melahirkan folosofi kehidupan yang kausalitas. Sebuah dialektika sebab akitab, dari nilai sastra menjadi karakter (baca: etika) bangsa yang berkeadilan.
Program Sastra Masuk Kurikulum merupakan bagian dari ikhtiar. Tidak ada yang bisa menjamin sebuah kesuksesan, karena sesuatu di masa depan adalah sebuah harapan. Kepastian masa depan hanya milik Allah SWT, sebagai zat yang mengetahui hal-hal yang telah lalu dan hal-hal di masa yang akan datang. Wallahu A’lam!
