Pesantren sebagai Penjaga Bahasa Daerah (Sunda)

Saya menyaksikan bahwa bahasa Sunda yang digunakan di pesantren adalah beragam mulai dari bahasa Sunda tingkatan kasar, loma (bahasa pergaulan biasa), maupun bahasa halus (bahasa tingkat tinggi). Bahasa kasar digunakan antara sesama santri yang sudah sangat akrab. Kemudian bahasa loma digunakan antarsantri secara umum. Sementara itu, bahasa halus digunakan untuk berkomunikasi dengan ajengan (kiai) dan dewan pengajar beserta keluarga mereka, serta dengan santri senior. Bahasa Sunda halus juga digunakan dalam forum resmi santri dan pesantren seperti dalam musyawarah, pidato, dan acara-acara peringatan.

Sementara di sekolah umum, saya hanya dapat menceritakan bahasa Sunda dalam lingkup pergaulan di luar pelajaran dan di luar acara-acara resmi sekolah. Bahasa Sunda yang digunakan di sekolah umum juga beragam mulai dari bahasa kasar, loma, sampai halus. Mirip seperti di pesantren, bahasa kasar digunakan untuk mereka yang sudah sangat dekat. Sementara bahasa loma digunakan untuk pergaulan antarsiswa secara umum. Demikian juga dengan bahasa halus, digunakan untuk berbicara dengan senior maupun dengan guru-guru.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sekilas tidak ada yang berbeda kecuali penggunaannya di pesantren yang lebih luas dibandingkan dengan di sekolah umum. Kedua lembaga sama-sama menggunakan ketiga tingkatan bahasa Sunda. Sebetulnya, di pesantren bahasa Sunda lebih berkembang dan juga sangat bervariasi. Bahasa Sunda di pesantren lebih kaya dari sisi kosa kata. Selain itu bahasa Sunda tingkat tinggi di pesantren dapat dikatakan sebagai bahasa Sunda “sangat” halus.

Sementara itu, di sekolah umum saya membedakan ketika saya di MTs dan SMA. Ketika MTS, sekolah saya terletak di desa sehingga siswa-siswanya pun rata-rata dari desa juga. Sementara sewaktu SMA, sekolah saya berada di kota dan lingkupnya kabupaten sehingga siswanya pun lebih heterogen. Ada yang dari desa, ada juga yang dari kota.

Di MTs  dan SMA penggunaan bahasa Sunda juga mengikuti tingkatan bahasa. Hanya, di SMA saya melihat fenomena bahasa “ganjil” dari beberapa orang yang mencampuradukkan bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia. Mereka kesulitan untuk berekspresi penuh dalam bahasa Sunda. Sebetulnya di setiap sekolah di Jawa Barat ada pelajaran bahasa Sunda, tetapi dari pengamatan saya, banyak yang mengalami kesulitan dalam pelajaran tersebut, terutama kalau sudah membahas penggunaan tingkatan bahasa.

Pesantren Memperkaya Bahasa

Ini berbeda dengan pesantren yang sudah terbiasa dengan tingkatan bahasa karena mereka menerapkannya secara ketat, terutama jika berhadapan dengan ajengan (kiai) dan dewan guru. Ini merupakan implementasi dari konsep penghormatan kepada ahli ilmu yang diajarkan di kitab kuning. Ajengan merupakan tokoh yang sangat dihormati lebih dari pada sosok guru di sekolah. Sosok ajengan ini juga dihormati oleh masyarakat sekitar bahkan sampai ke luar batas wilayahnya. Ajengan merupakan tokoh kharismatik. Ini jelas berbeda dengan guru-guru yang cakupannya lebih terbatas di sekolah tempat ia mengajar dan paling luas mencakup juga lingkungan tempat tinggalnya.

Kemudian, pesantren didatangi oleh santri-santri dari berbagai daerah sehingga terjadi proses pertukaran kosa kata bahasa Sunda dari berbagai wewengkon atau dialek. Ini memperkaya bahasa Sunda di pesantren. Selain itu mereka yang nyantri di pesantren banyak pula yang telah nyantri di pesantren lainnya karena pesantren adalah lembaga yang kajiannya berdasarkan kekhususan dalam bidang ilmu tertentu. Dengan demikian, banyak santri yang sebelumnya mondok di pesantren pikih atau pesantren alat (mempelajari ilmu bahasa Arab) misalnya, mereka datang ke pesantren tempat saya mondok untuk mengkaji ilmu ushul fiqh. Dengan demikian, santri-santri juga membawa budaya bahasa dari pesantren sebelumnya. Hal ini membuat bahasa Sunda yang dipraktikkan di pesantren lebih kaya dan beragam.

Tinggalkan Balasan