Pesantren sebagai Penjaga Bahasa Daerah (Sunda)

Selanjutnya bahasa Sunda juga dijadikan sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar-mengajar di pesantren, serta bahasa standar dalam acara-acara resmi sehingga bahasa Sunda berkembang lebih luas mencakup ragam komunikasi dengan khalayak ramai (public speaking), terutama dalam berpidato. Dari aspek bahasa, santri jelas memiliki keterampilan bahasa Sunda yang di atas rata-rata, sehingga ketika kembali ke masyarakatnya masing-masing, mereka memiliki citra yang baik di masyarakat sebagai orang yang memiliki penguasaan bahasa Sunda yang bagus.

Tentu perlu diingat bahwa bahasa Sunda yang dibicarakan di sini adalah yang berlaku di daerah Priangan. Bahasa Sunda di wilayah ini tidak terlepas dari pengaruh Mataram sehingga awal-awalnya banyak dipraktikkan secara ketat oleh keluarga menak (Ningrat, dalam bahasa Jawa). Menak merupakan kaum bangsawan yang sangat dekat dengan Mataram dan kemudian dengan Belanda. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kesempatan luas untuk mengecap bangku sekolah di masa kolonial. Tetapi kaum Menak ini di masa sekarang tidak terlihat lagi pengaruhnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Akhirnya, kembali lagi ke latar belakang budaya masyarakat setempat. Di Sunda sendiri ada perbedaan antara masyarakat Priangan yang mengenal hierarki kebahasaan dengan masyarakat Banten yang tidak mengenalnya. Bahasa Sunda Banten sering dicap sebagai bahasa Sunda kasar, sehingga banyak dari orang Sunda Banten yang merasa minder jika bertemu dengan orang Priangan.

Sebetulnya tidak perlu ada stigma seperti itu. Orang Banten juga perlu bangga dengan bahasanya. Bolehlah di sini saya meminjam ungkapan senior saya bahwa “Bahasa Sunda Priangan merupakan bahasa Sunda yang reformatif, sedangkan bahasa sunda Banten merupakan bahasa Sunda yang original”. Dalam penghormatan dengan kiai, masyarakat Banten tentu memiliki kekhasan sendiri.

Kesimpulannya, pesantren memiliki peranan yang besar dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa Sunda. Tradisi penghormatan kepada ajengan atau kiai menjadi alasan yang menjaga bahasa Sunda tetap utuh. Selain itu, pesantren yang didatangi oleh santri dari berbagai daerah dan latar belakang juga menjadi tempat untuk pertukaran bahasa sehingga semakin memperkaya bahasa Sunda. Hal lainnya yang mendorong berkembangnya bahasa Sunda di pesantren adalah digunakannya bahasa Sunda sebagai bahasa resmi baik dalam pembelajaran maupun dalam acara-acara resmi.

Terakhir, tulisan ini bukan bermaksud hendak memunculkan sentimen kedaerahan, tetapi ingin menyadarkan bahwa heterogenitas bahasa daerah adalah salah satu yang membentuk keindonesiaan. Jika ingin memperkuat bangsa, maka penting juga untuk meneguhkan bahasa daerah. Meskipun, kita menggunakan bahasa daerah masing-masing, tetapi kita masih menjunjung satu bahasa nasional, Bahasa Indonesia.

Wallahu a’lam

Depok, 29 Juni 2020 M/8 Dzul Qo`idah 1441 H.

Tinggalkan Balasan