Pesantren: Wahyu, Akal, dan Rasa

 

Pernahkah kita bertanya, bagaimana sebuah pondok pesantren membangun cara berpikir para santrinya? Di dunia akademik, ini disebut dengan Epistemologi—sebuah cabang ilmu yang memelajari dari mana pengetahuan berasal dan bagaimana cara membuktikannya.

Bagi pesantren, ilmu bukan sekadar hafalan teks, melainkan sebuah harmoni antara langit (wahyu), otak (akal), dan hati (pengalaman spiritual). Berikut adalah tiga pilar utama yang membentuk cara pandang dunia santri:

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertama, wahyu sebagai kompas. Di pesantren, sumber kebenaran tertinggi adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, santri diajarkan untuk tidak memahami teks secara serampangan. Melalui disiplin ilmu tafsir dan hadis, mereka membedah konteks sejarah hingga tata bahasa agar pesan Tuhan tetap murni.

Menariknya, pesantren juga mengenal konsep ilmu laduni—pengetahuan yang dianugerahkan Allah langsung ke dalam hati hamba-Nya yang saleh. Meski terkesan “ajaib”, ilmu laduni tetap harus tunduk pada aturan syariat; ia memperkaya batin, bukan menggantikan hukum yang sudah ada.

Kedua, akal sebagai mesin pengolah pengetahuan. Ada anggapan keliru bahwa pesantren hanya mengandalkan dogma. Faktanya, akal mendapat tempat yang terhormat. Kegiatan Bahtsul Masail dan penggunaan kitab-kitab mantiq (logika) menunjukkan bahwa santri dilatih untuk berpikir kritis, analitis, dan koheren.

Bagi pesantren, akal adalah alat untuk memahami kebesaran Allah melalui alam semesta (ayat kauniyah). Namun, akal tetap memiliki batas. Ia diposisikan sebagai “pelayan” wahyu—membantu manusia menerapkan ajaran agama dalam persoalan baru yang belum ada di zaman dulu.

Ketiga, pentingnya sanad keilmuan. Salah satu kekhasan pesantren adalah sanad—rantai transmisi ilmu yang menyambung hingga ke Rasulullah. Ini bukan sekadar formalitas, tapi jaminan keaslian ilmu. Di sini, peran kiai menjadi sentral. Kiai bukan hanya “ensiklopedia berjalan”, tapi adalah uswah hasanah (teladan hidup).

Pengetahuan di pesantren tidak hanya didapat dari membaca kitab kuning, tapi juga dari mengamati bagaimana kiai bersikap, beribadah, dan berinteraksi. Inilah yang membuat ilmu di pesantren menjadi “bernyawa” karena ada keteladanan yang menyertainya.

Keempat, dzauq atau merasakan kebenaran dengan hati. Pengetahuan di pesantren juga melibatkan aspek dzauq atau rasa. Misalnya, memahami makna sabar atau ikhlas tidak cukup hanya dengan menghafal definisinya di kitab tasawuf. Santri harus merasakannya melalui pengalaman langsung—lewat tirakat, kedisiplinan hidup komunal, dan pengabdian. Ilmu dipandang sempurna ketika ia sudah meresap menjadi akhlak.

Masa Depan: Integrasi Ilmu

Saat ini, pesantren tidak lagi menutup diri. Ada semangat untuk menyatukan ilmu agama dengan ilmu umum (sains, sosial, dan teknologi). Prinsipnya jelas: المحُاَفَظَةُ عَلَى القَدِيْمِ الصَالِحِ وَالأَخْذُ باِلجَدِيْدِ الأَصْلَحِ

Artinya: Melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik. Ini berarti sebagai prinsip menerima hal-hal baru yang baik tanpa meninggalkan tradisi lama yang mulia. Dengan prinsip ini, pesantren sedang membuktikan bahwa menjadi religius tidak berarti harus buta terhadap perkembangan zaman.

Kesimpulan

Epistemologi pesantren adalah sebuah sistem yang lengkap. Ia menjaga tradisi dengan ketat melalui sanad dan kitab kuning, namun tetap memberi ruang bagi akal dan hati untuk berkembang. Dengan fondasi yang kokoh ini, lulusan pesantren diharapkan tidak hanya menjadi orang yang pintar secara intelektual, tapi juga jernih secara spiritual.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan