Pohon Buah Kenangan

Malam itu putri kita masih terlelap di dalam kamarnya. Kamu berpesan, agar aku menjaganya dan tidak menjadikannya sebagai barang taruhan. Aku mengiyakan. Entah kenapa, saat itu dadaku terasa seperti dipukul-pukul. Aku benar-benar merasa kehilangan saat itu. Hatiku seperti diiris-iris. Setelah kepergianmu, aku menangis sejadi-jadinya.

Mataku sembab saat mentari mulai menyingsing. Aku tak berdaya. Aku duduk lunglai, entah jiwaku mengembara ke mana. Putri kita bangun. Dia menghampiriku dan bertanya kenapa rumah kita porak poranda. Dia juga bertanya, kenapa mataku sembab. Aku bilang, aku baru saja memotong bawang. Dia percaya. Umurnya saat itu masih lima tahun. Jadi wajar, apabila dia gampang percaya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dan apa yang aku takutkan ketika dia bangun pun terjadi. Dia pun bertanya tentangmu. Dia mencari di sudut-sudut rumah, namun tetap tak menemukanmu. Dia menangis, sebab ibunya lenyap begitu saja.

Melihat tangisnya, membuatku kembali melihat tangismu sebab kejahatanku. Aku beranjak dari tempat dudukku. Aku menghampirinya. Aku menggendongnya. Aku mencoba membujuknya. Aku bilang, kamu pergi untuk membeli boneka untuknya. Dia pun berhenti menangis, walau masih ada sisa-sisa isakannya. Dia senang akan dibelikan boneka. Padahal, kamu pergi tak untuk kembali.

Hingga waktu berselang. Aku terbiasa hidup tanpamu. Aku mengantar putri kita sekolah, merawatnya, memasakkannya berbagai makanan; perihal itu kulakukan sendiri. Putri kita seringkali bertanya tentangmu. Jawabanku masih sama, kamu pergi untuk membelikannya boneka. Dia pun berhenti bertanya. Entah sampai kapan aku dapat membohonginya.

Aku benar-benar sangat menyesal. Aku mencarimu ke mana-mana. Dari tempat judi, hingga ke tempat di mana orang seperti lelaki itu berkeliaran. Tetap saja aku tak menemukanmu. Huh, kita seolah-olah main petak umpet. Bedanya, aku tak kunjung menemukanmu.

Tak ada yang bisa aku lakukan lagi. Aku hanya dapat termangu-mangu sambil memandangi pohon yang kita tanam bersama. Dan memakan buahnya, selalu membuatku kembali mengenangmu —mengenang kebaikanmu dan mengenang kejahatanku.

“Ayah! Kapan mama pulang?!” kembali putri kita membuyarkan kenangan buruk bersamamu. “Ayah! Kenapa Ayah selalu diam bila kutanya tentang Mama?!” Dia mendesakku. “Aku tak mau boneka, Ayah! Aku mau mama pulang!”

Putri kita menangis keras. Entah sejak kapan air mata itu dia tabung. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Ternyata putri kita sudah dewasa. Dia sudah pintar. Atau mungkin, dia sudah menyadari semua kebohonganku. Apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin kembali membohonginya dengan alasan boneka. Bahkan dia pun tak mau boneka. Dia hanya mau mamanya pulang.

Sekarang aku benar-benar sudah mati kutu, istriku. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, seperti halnya dulu aku tak bisa berbuat apa-apa untukmu. Mungkin memang tak ada jalan lain bagiku, selain menebang pohon berbuah kenangan itu.

Tinggalkan Balasan