Ah, aku mengutuk diriku sendiri. Betapa jahatnya aku dulu. Hanya karena tak kunjung mendapat pekerjaan, aku menjadi penjudi dan pemabuk.
“Ayah…,” suara putri kita telah membuyarkan lamunanku tentangmu. “Kenapa Ayah diam?”

“Ayah sedang menghitung berapa banyak buah yang kita miliki di pohon itu,” jawabku sekenanya. Dia seperti kebingungan. Wajar saja, umurnya masih tujuh tahun untuk berpikir banyak.
“Untuk apa Ayah menghitung buah?” tanyanya lagi.
“Untuk kita berikan pada Mama.”
“Emang Mama mau pulang? Kapan, Yah?” putri kita mendesak. Aku tertegun. Aku salah bicara. Aku tak tahu harus bilang apa. Haruskah aku bilang, aku sedang membohonginya sekarang, kemarin, atau mungkin besok. Ah, mana mungkin.
Putri kita sangat merindukanmu, apalagi aku. Tak hanya putri kita yang bertanya-tanya kepulanganmu. Aku pun juga. Dalam hati kecilku, aku berharap kamu pulang. Aku merindukan saat-saat kita bersama.
Kita menanam pohon di pekarangan rumah kala itu. Kita merawatnya bersama. Kamu kerap menyiramnya saban pagi. Di kala kamu masih menggunakan daster dengan rambut yang diikat, samar-samar aku melihat kecantikanmu yang disinari cahaya pagi. Aku bahagia, hari-hari itu. Namun semuanya berubah, sebab keegoisanku.
Maafkan aku yang senantiasa membuatmu menderita. Tidak! Kesalahanku tak bisa dimaafkan. Lelaki mana yang segila aku. Hingga aku tega menjadikanmu sebagai barang taruhan. Waktu itu aku benar-benar kalap. Uangku ludes sebab aku kalah melulu. Tubuhku telah dikuasai oleh hasrat menang. Sehingga dirimu pun menjadi korban. Aku menjadikanmu sebagai barang taruhan. Bila aku kalah, aku akan menyerahkamu pada lelaki itu, sang pemenang.
Dan benar, aku kalah. Dia mengambilmu dariku. Dia mendatangi rumah kita, untuk menagih taruhan yang aku janjikan. Aku ingat betul saat kamu menangis. Kamu meronta dari dekapan dua bodyguard kekar, suruhan lelaki itu. Aku tak bisa apa-apa, selain melihat kepergianmu dibawa mobil hitam.
