Politik sipil kemudian muncul bila dalam suatu masjid terdapat persaingan pengaruh antar-pengurus ataupun petinggi dari dua atau lebih afiliasi. Namun, masjid sebagai wahana politik sipil masih luput dari kekhawatiran warga karena masih lumrahnya masjid sebagai tempat sakral yang bebas kepentingan menurut orang awam―sekalipun kajian sosiologi ataupun politik telah banyak mengulas soal politisasi agama (meskipun tidak popular).
Kalah menang suatu pengaruh biasanya dapat terlihat dari perubahan masyarakatnya. Dalam satu dekade terakhir, beberapa wilayah urban menunjukkan peralihan karakter masyarakat: dari yang mulanya ‘biasa’ menjadi bergamis. Peralihan yang paling mendasar mungkin terjadi di kalangan anak-anak, di mana mereka telah dibiasakan untuk bergamis.

Sebelumnya, pada awal tahun 2000-an hingga tahun 2010-an, anak-anak kota lebih lekat dengan celana dan sarung. Selain mengafirmasi penelitian soal menjamurnya gairah kesalehan sosial, indikasi-indikasi simbolik tersebut juga menyiratkan keberadaan gunung es dari politik sipil yang terjadi di masjid. Selain di masjid perumahan, politik sipil juga terjadi masjid atau surau sekolah, khususnya jenjang menengah pertama dan menengah atas.
Di wilayah sekolah, alumni dan guru memainkan peran kunci bagi politik sipil. Hierarki jejaringnya mirip dengan apa yang terjadi di perumahan, namun dengan akses sosial yang lebih sempit (berbasis almamater). Kontestasi pengaruh bisa terjadi secara simetris antar-sesama guru dan sesama alumni, atau secara asimetris antara guru dan alumni. Baik di perumahan ataupun di sekolah, politik sipil masjid sama-sama bertujuan untuk mencetak generasi masyarakat dengan imajinasi islami tertentu.
Di desa, elite masjid beserta dengan politik sipilnya memiliki jejaring yang berbeda. Dua hulu yang paling berpengaruh adalah ketokohan historis dan pesantren. Kepercayaan pada kisah epik terdahulu beserta dengan tokoh utamanya sering menempatkan turunannya pada posisi otoritas religius. Bila tidak ada, biasanya alumni pesantren menjadi pengisinya. Namun bukan berarti siklus reproduksi elite masjid di desa kebal dari perubahan.
