Pesantren yang pada 2018 menjadi tuan rumah Musbaqah Kitab Kuning Tingkat Porvinsi ini dikenal sebagai Lembaga pendidikan yang membentengi generasi muda dari serbuan virus radikalisme dan terorisme. Sebab, standar kurikulum pendidikannya sangat ketat, yang meliputi kitab-kitab kuning peninggalan ulama salaf di bidang fikih, tafsir, hadits, ilmu alat, tata bahasa, aqidah, tasawwuf, dan lain-lain yang menutup ruang bagi masuknya paham radikalisme dan terorisme. Contoh-contoh kitab yang diajarkan di antaranya Safinatunnajah, Fathul Qarib, dan Fathul Muin untuk di bidang fikih. Di bidang teologi/aqidah, ada kitab Kifayatul ‘Awam dan Ummu Al-Barahim yang merupakan kitab syarah dari Al-Dasuki. Dalam kitanb-kitab tersebut tidak ada sama sekali d anjuran tentang jihad fisik dalam arti bebas. Kalau ada kitab memuat tentang konsep jihad, khilafah, ar-raiyyah (kepemimpinan), misalnya, tidak sedikitpun para guru di sini berpikir tentang pendirian negara Islam untuk mengganti Pancasila.
Selain itu, dalam proses belajar-mengajar, tradisi berbeda pendapat di Pesantren Pareppe ini dijunjung tinggi. Perbedaan pendapat dalam memahami teks dan konteks dalam kitab kuning yang tak berbaris itu memang menjadi fenomena biasa di dunia pesantren, tidak terkecuali pada Pesantren Salafiyah Parappe. Itu terlihat dan terjadi dalam kegiatan diskusi usbu’iyyah/syahriyyah maupun bahtsul masail di kalangan santri, yang merupakan forum adu argumentasi berbasis kitab kuning.

Di pesantren ini juga dikembangkan tradisi sufisme ala pesantren sangat mewarnai cara pandang dan perilaku keberagamaan santri dan masyarakat sekitarnya. Salah satu tokoh sufi yang dijadikan rujukan penting melalui kitabnya, Ihya Ulumid Diin, Imam Al-Ghazali telah membentuk watak santri yang tawadhu, qanaah, ikhlas, dengan amalan wirid dan majahadah yang intensif. Tradisi sufisme dengan sendiri membentengi santri dari pengaruh arus radikalisme dan terorisme.
Yang menarik, di Pesantren Pareppe ini ada kewajiban bagi santri untuk menghafal Pancasila, dan setiap 17 Agustus digelar upacara kemerdekaan Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia (NKRI. di halaman pondol. Tak lain, KH Abd Latif Busyra adalah yang mewajibkan para santri menghapalkan Pancasila dan mengikuti upacara kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus. Tentu, upara kemerdekaan dilaksanakan ala santri; peserta upacara santri putra tetap mengenakan sarung, yang putri berjilbab.
Itulah Pesantren Pareppe, yang terus mendidik generasi muda untuk menguasai keilmuan Islam yang berjiwa nasionalis.
