Di era layar yang menyala 24 jam, batas antara ruang privat dan ruang publik telah runtuh. Dulu, ibadah adalah momen sunyi antara hamba dan Tuhan di sudut kamar atau di dalam rumah ibadah. Kini, sujud, doa, hingga perjalanan haji dan umrah kerap berpindah ke dalam frame kamera, dipermanis dengan filter, dan diunggah ke media sosial. Fenomena ini melahirkan perdebatan etis yang pelik. Apakah postingan ibadah adalah sarana syiar yang inspiratif, ataukah sekadar bentuk flexing atau pamer spiritual untuk mengejar validasi digital?
Kemurnian Niat di Balik Piksel

Jantung dari setiap ibadah adalah niat (ikhlas). Dalam tradisi Islam, konsep riya (pamer) dipandang sebagai syirik kecil yang dapat menghapuskan pahala amal perbuatan. Hal ini menjadi tantangan besar di media sosial yang ekosistemnya memang didesain untuk pamer.
Imam Al-Ghazali dalam mahakaryanya Ihya Ulumuddin (ditulis sekitar abad ke-11), memberikan analisis psikologis-teologis yang sangat relevan. Beliau membedakan antara amalan yang tampak (zahir) dan yang batin. Al-Ghazali mengingatkan bahwa godaan untuk dipuji manusia sangatlah halus, seperti semut hitam di atas batu hitam di kegelapan malam. Jika tujuan mengunggah ibadah adalah untuk menginspirasi orang lain (dakwah), maka ia bernilai positif. Namun, jika ada setitik keinginan untuk dianggap lebih saleh, maka ia jatuh pada riya.
Dalam perspektif Kristiani, hal ini senada dengan khotbah di bukit dalam Injil Matius yang memperingatkan agar tidak memamerkan kewajiban agama di depan orang supaya dilihat. Begitu pula dalam konsep Hindu tentang Nishkama Karma—berbuat tanpa mengharap hasil atau pujian—yang dijelaskan dalam Bhagavad Gita. Teologi secara universal mengajarkan bahwa ibadah adalah bentuk ketundukan, bukan alat untuk meninggikan status sosial di mata manusia.
Dari Kesalehan Sosial ke Komodifikasi Agama
Secara historis, ekspresi keagamaan di ruang publik bukanlah hal baru. Namun, sosiologi melihat adanya pergeseran fungsi. Dulu, ibadah publik (seperti salat berjamaah atau prosesi sakramen) berfungsi sebagai penguat kohesi sosial. Kini, di era digital, ibadah sering kali mengalami komodifikasi.
Sosiolog Max Weber dalam bukunya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1905), membahas bagaimana etika kerja dan keberhasilan material sering dianggap sebagai tanda keselamatan spiritual. Di era sekarang, fenomena ini bertransformasi menjadi capitalism of attention. Posting ibadah menjadi modal simbolis untuk membangun personal branding.
Fakta aktual menunjukkan bahwa influencer agama sering kali menggunakan ritual ibadah sebagai konten untuk meningkatkan keterlibatan (engagement). Bryan S. Turner dalam Religion and Modern Society (2011) mencatat bahwa dalam masyarakat konsumen, agama sering kali dipaketkan sebagai gaya hidup. Ibadah tidak lagi hanya soal hubungan dengan Tuhan, tapi bagian dari estetika profil media sosial. Flexing ibadah di sini bukan sekadar pamer kekayaan, melainkan pamer kesalehan sebagai mata uang baru dalam hierarki sosial digital.
Masyarakat Tontonan dan Eksistensi
Filsafat kontemporer memberikan pisau analisis yang tajam terhadap fenomena ini melalui konsep The Society of the Spectacle (Masyarakat Tontonan) dari Guy Debord (1967). Debord berargumen bahwa dalam masyarakat modern, segala sesuatu yang dulu dialami secara langsung kini telah bergeser menjadi representasi (gambar).
Ketika seseorang lebih sibuk mencari sudut foto terbaik saat berdoa daripada meresapi doa itu sendiri, terjadilah apa yang disebut sebagai “alienasi spiritual”. Ibadah tidak lagi “menjadi” (being), melainkan “tampak” (appearing).
Sejalan dengan itu, Jean Baudrillard dalam bukunya Simulacra and Simulation (1981) akan melihat postingan ibadah sebagai “simulakra”—sebuah salinan dari kenyataan yang kehilangan aslinya. Postingan doa di Instagram seringkali lebih “nyata” bagi audiens daripada doa yang sebenarnya diucapkan dalam hati. Kita hidup dalam dunia di mana citra tentang kesalehan dianggap lebih penting daripada kesalehan itu sendiri.
Navigasi Etika di Ruang Digital
Bagi generasi muda (Gen Z dan Alpha) yang tumbuh dalam ekosistem digital, membedakan inspirasi dan flexing membutuhkan kecerdasan emosional dan spiritual. Kontribusi nyata yang bisa diambil dari diskursus ini adalah pembentukan digital asceticism atau asketisme digital (latihan pengendalian diri di dunia maya).
Dari sinilah diperlukan langkah-langkah etis bagi generasi muda. Pertama, jeda sebelum unggah (The 10-Second Rule). Sebelum menekan tombol share pada konten ibadah, tanyakan pada diri sendiri “Apakah ini untuk Tuhan, untuk menginspirasi sesama, atau agar aku dipuji?” Kejujuran radikal pada diri sendiri adalah kunci.
Kedua, kualitas di atas visibilitas. Mengambil pelajaran dari pemikiran Soren Kierkegaard dalam Purity of Heart is to Will One Thing (1847), bahwa kemurnian hati adalah menginginkan satu hal (Tuhan). Jika postingan justru mengaburkan fokus tersebut, lebih baik disimpan sebagai dokumentasi pribadi.
Ketiga, inspirasi tanpa eksploitasi. Memberi inspirasi bisa dilakukan dengan membagikan esensi atau hikmah ibadah, bukan melulu visual fisik ibadahnya. Misalnya, membagikan refleksi pemikiran setelah membaca kitab suci lebih bernilai edukatif daripada sekadar foto kitab suci dengan filter estetik.
Keempat, menghargai privasi Ilahi. Menyadari bahwa ada momen-momen yang terlalu suci untuk dibagikan. Keintiman dengan Tuhan adalah ruang privat yang tidak semua orang berhak masuk.
Etika posting ibadah bukanlah tentang pelarangan total, melainkan tentang penataan niat dan kesadaran akan ruang. Di tengah hiruk-pikuk media sosial, tantangan terbesar generasi muda adalah tetap menjadi subjek yang berdaulat atas spiritualitasnya, bukan objek dari algoritma.
Sebagaimana diingatkan oleh Alvin Toffler dalam Future Shock (1970), teknologi dapat mengasingkan manusia jika tidak dibarengi dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam. Menjadikan ibadah sebagai inspirasi adalah mulia, namun menjadikannya alat flexing adalah bentuk kemiskinan spiritual di tengah kelimpahan digital. Mari kita kembalikan ibadah pada hakikatnya. Sebuah dialog sunyi yang getarannya terasa di bumi, meski tak selamanya harus tampil di layar ponsel.
