Pot Bunga*

Kau boleh tak percaya ceritaku. Aku bukan rasul yang mesti jujur. Aku bukan pula iblis yang suka licik. Anggap saja aku tukang dongeng yang suka berkisah padamu tentang segala yang ada dan juga tak ada; segala yang mungkin dan juga tak mungkin.

Sekalipun ceritaku benar-benar terjadi, aku tak punya keahlian untuk membuatmu percaya padaku. Atau aku akan memaksamu memercayaiku? Tidak! Tidak boleh ada paksaan di antara kita. Karena itu, aku cuma ingin satu hal: dengarkan ceritaku dengan baik sebab aku tak akan pernah mengulanginya lagi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Konon, setelah mengacau lantas diusir dari bumi, bangsa jin punya kehidupan lain di luar alam kita. Tapi seminggu yang lalu, setelah Eva salat berjamaah di musala dan membuka lemari untuk mengambil baju santai, air mukanya mendadak seperti selembar cermin terkena percik kopi. Baju warna biru yang hendak dia pakai buat mengaji Al-Qur’an kepada Ibu Nyai pagi itu ternyata raib.

Dia masih ingat betul, baju itu dia ambil dari jemuran lantas dia rapikan dan masukkan ke dalam lemari. Setelah itu, lemari miliknya dia kunci seperti biasanya. Kunci itu, saat dia mengambil mukena untuk salat berjamaah Subuh, masih dia gunakan. Kunci itu, setelah mengunci kembali lemari, dia bawa ke musala. Itu kunci miliknya satu-satunya. Tak ada kunci cadangan.

Lubang kunci juga berfungsi dengan baik. Saat dia masukkan kunci ke lubangnya lalu memutarnya perlahan, dia begitu ingat, masih berbunyi, ceklek. Dia tarik pintu lemari dan engsel lemari berderit dan baju itu raib. Padahal, dia yakin, ingatannya baik-baik saja. Baju itu benar-benar dia letakkan di sana.

“Hanya orang canggih yang mampu mencuri bajuku tanpa menyentuh pintu lemari,” batinnya tertegun bagai rautnya yang tiba-tiba surut.

Keterkejutan itu hanya tergurat sebentar. Setelah aktivitas lain menyibukkan dirinya dan pikirannya, dia segera lupa pada baju biru yang hilang itu. Kehilangan satu buah baju, bagi Eva, tidak perlu terlalu dipersoalkan.

Namun masalahnya, dua hari setelah itu, satu isi lemarinya hilang lagi. Kali itu, yang hilang adalah pakaian dalam: kutang warna pink. Lewat dua hari, masih ada yang hilang lagi. Yang hilang kian membuatnya tercengang: celana dalam warna hitam. Dalam hampir seminggu dia telah kehilangan tiga pakaiannya yang menurutnya sangat tidak lumrah.

Pagi ini, dua hari setelah dia kehilangan yang terakhir, cemas merubung pikirannya serupa hantu pendendam tak mau pulang. Saat bangun tidur, buru-buru dia pegang gagang pintu lemari dan menariknya. Terkunci rapat. Sama seperti ketika dia menguncinya tadi malam. Dia raba saku baju yang dia pakai. Kunci itu ada di situ. Lengkap.

Akan tetapi, meski sangat penasaran apakah isi lemarinya akan hilang lagi atau tidak, dia tak segera memasukkan kunci itu ke lubangnya. Dia hanya memandang lemari itu. Azan telah tuntas memanggil umat. Desir angin yang melompat di jendela menyelinap pada celah-celah kerudungnya dan meniupkan perasaan ganjil ke tengkuknya. Semua temannya sudah berangkat ambil wudu. Sepi. Bulu halusnya meremang. Dia akhirnya bangkit dan menuju kamar mandi.

Kembali dari kamar mandi, dengan wajah yang basah oleh air wudu, barulah dia berani memasukkan kunci itu ke lubangnya, memutarnya perlahan hingga terdengar bunyi, ceklek, lantas dia tarik pintu lemari. Dia perhatikan dengan teliti satu per satu pakaian miliknya yang terlipat rapi di lemari. Lima buah kerudung, empat sarung bermotif batik, enam hem, lima kaos lengan panjang, dan… ahai, di manakah kaus seragam komunitas Club Pecinta Alam (CPA)? Dia singkap di antara baju lain. Tak ketemu. Ya, kaus itu tak ada di situ. Hilang. Rasa kesal tiba-tiba memukul dadanya.

“Pencuri mana sih yang suka mengambil bajuku?” teriaknya dan teman-temannya yang juga bersiap berangkat ke musala menoleh ke arahnya.

“Awas, ya, kalau ditemukan nanti kulaporkan sama Ibu Nyai,” lanjutnya tanpa mengarahkan matanya kepada siapapun. Namun tak ada yang menyahut.

“Aku yakin, salah satu di antara kalian adalah pelakunya.” Saat dia mulai menuduh itulah akhirnya ada yang buka suara.

“Eh, Mbak. Kamu kehilangan baju, ya? Baju apa, Mbak?”

“Banyak!”

“Pakaian dalam?”

“Iya.”

“Kutang?”

“Iya.”

“Saya juga kehilangan itu, Mbak. Sejak seminggu yang lalu, dua kutang dan tiga CD saya hilang. Tak tersisa.”

“Loh?”

“Saya juga, Mbak. Semua kutang saya hilang.”

“Loh?”

Eva dan teman-temannya mengalami kasus serupa: kehilangan beberapa pakaian, dan bukan emas atau barang mahal lain, sejak seminggu yang lalu tanpa ada satu pun jejak dan tanda pencurian. Aneh, bukan?

Sementara itu, pada hari yang sama, usai salat berjamaah Subuh di masjid dan semua santri kembali ke kamar masing-masing, pondok putra gempar. Lemari Wakid, santri yang terkenal culun itu, didapati berisi banyak sekali pakaian wanita. Salah seorang temannya membuka lemarinya yang memang tak pernah dikunci buat meminjam korek api lantas menemukan BH, CD, kaus, dan beberapa pakaian lain yang semuanya milik wanita memenuhi lemari Wakid.

Tentu saja, Wakid dicurigai telah mengambil semua baju itu dari pondok putri. Mengaku atau tidak, bukti telah bicara. Dia tidak bisa mengelak. Seluruh teman kamarnya terang-terangan mengarahkan tuduhan kepadanya.

“Dasar cabul!”

One Reply to “Pot Bunga*”

Tinggalkan Balasan