Pot Bunga*

“Naksir sama santri putri boleh-boleh saja, tapi tak usah kayak tukang sihir. Diam-diam menghanyutkan. Huyhuy”

“Ha-ha-ha-ha-ha.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Makanya suka menyapu halaman pondok putri, ternyata ada maunya. Hmmm.”

“Begitulah tipe pendiam. Kalau tidak pencuri, ya mesum.”

“Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap. Anjai.”

“Luarnya takzim, dalamnya anjing.”

“Untung dulu aku menolak saat diajak masuk CPA.”

Muka Wakid merah padam. Sepasang kupingnya serasa terbakar. Kepalanya panas. Tidak tahan menerima tuduhan itu, dia minggat dari kamarnya. Dia bawa kakinya menuju kantor pesantren. Dia merasa dirinya telah difitnah. Dia hendak melaporkan kejadian ini.

Baru saja dia akan mengucap salam, dari depan pintu kantor dia lihat salah seorang teman kamarnya telah ada di dalam kantor dan melaporkan kejadian barusan kepada pengurus pesantren. Buru-buru dia masuk.

“Dia berdusta, Pak. Saya difitnah,” ucapnya lantang sambil menuding.

“Silakan duduk, Wakid. Tidak usah main menuduh.”

“Loh? Yang dituduh ini saya, Pak.”

Teman yang melapor tadi ciut, beringsut mundur dan keluar dengan cepat. Wakid menatapnya lekat seperti tatapan burung hantu.

“Bukankah semua pakaian itu ada di lemarimu, Wakid?”

“Kejadiannya memang begitu, Pak. Tapi lemari saya tidak pernah dikunci. Pakaian itu tiba-tiba ada di lemari saya. Pasti teman-teman yang menaruhnya ke dalam lemari saya. Saya dijebak.”

“Wakid, kalau pencuri mengaku, penjara pasti penuh.”

“Saya berani bersumpah, Pak. Saya tidak mencuri.”

“Jangan main-main sama sumpah, Wakid. Kamu bisa kualat. Lagipula, barang-barang itu ada di lemarimu. Itu kebenarannya. Sekarang, lebih baik kamu langsung menghadap kepada pengurus Kamtib.”

“Loh, saya tidak bohong, Pak. Bukan saya pelakunya. Saya difitnah.”

“Jangan banyak alasan. Kalau sampai pengurus Kamtib yang mendatangimu, hukumannya jauh lebih berat.”

Dengan langkah berat dan dada seperti mercon hampir meledak Wakid keluar. Tapi dia tidak menuju ke kantor keamanan pesantren. Dia bawa tubuhnya ke arah selatan, ke kamarnya. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba dia ambruk. Dia menggelepar di tepi jalan di depan kantor pesantren.

Tepat pada detik itu, Eva yang tengah mengetik data sampah di ruang CPA putri juga rubuh. Dia pingsan. Dua teman di sampingnya kaget dan menjerit. Beberapa santri lain merubung. Eva bangun tapi justru bertingkah aneh. Ruangan itu gaduh.

Hari itu, Wakid dan Eva kesurupan. Mereka pingsan, muntah darah, mengamuk dan teriak-teriak. Berulang-ulang. Semua santri dan pengurus pesantren berusaha menyembuhkan mereka. Tapi Wakid dan Eva justru menampar siapapun yang membacakan Ayat Kursi, Alfalaq, Alhasyr, atau upaya apapun untuk mengeluarkan jin dari tubuh mereka.

Satu jam berlangsung, mereka tak kunjung sembuh. Dua jam, tiga jam, empat jam… Tak ada hasil. Pengurus pesantren jadi bingung. Hingga akhirnya, menjelang mereka dibawa ke seorang kiai di luar pesantren, seorang pengurus ndhalem datang. Lelaki bernama Khairuz itu memberitahu pengurus pesantren bahwa Pengasuh menyuruhnya untuk membawa Wakid ke kamar ndhalem. Dia juga ke pondok putri dengan membawa perintah yang sama untuk Eva.

“Dawuh Pengasuh tadi, entah tahu dari mana, jin yang merasuki Eva dan Wakid hanya bisa sembuh di ndalem,” ucap Khairuz dan mereka pun digotong ke kamar ndhalem.

Di sanalah mereka pulih. Pengasuh dengan cepat mampu mengeluarkan jin dari tubuh mereka, entah dengan cara apa. Pengasuh memang sering begitu: tiba-tiba dan selalu membuatku takjub. Dan secara etis, kumohon, kau tidak perlu menelusuri lebih jauh. Anggap saja itu kehebatan Pengasuh. Titik.

Lagipula, selama berada di kamar ndhalem, kecuali Khairuz, tak seorang pun diizinkan masuk. Maka dari Khairuz, aku mendapatkan cerita tentang percakapan antara Pengasuh dan jin itu.

“Kalian beda alam. Kenapa kalian ganggu santriku?”

One Reply to “Pot Bunga*”

Tinggalkan Balasan