Pramoedya Ananta Toer, Humanisme, dan Dialog Tanpa Sekat

Gus Dur juga pernah mengutip filosofi laut dari karya Pram: “Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati manusia semakin dangkal dan miskin.” Pernyataan ini mencerminkan pemikiran Pram tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan sumber daya laut Indonesia.

Meskipun demikian, tidak semua pandangan mereka selalu sejalan. Pada 26 Maret 2000, Pram menolak permintaan maaf Gus Dur terkait pembantaian PKI 1965-1966. Pram merasa bahwa permintaan maaf tersebut tidak disertai dengan tindakan konkret untuk mengembalikan martabat korban dan keluarga mereka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meskipun terdapat perbedaan pandangan, hubungan antara Gus Dur dan Pram tetap menunjukkan bahwa dialog dan persahabatan lintas ideologi dapat terjalin dengan saling menghormati dan memahami. Keduanya menjadi simbol bahwa spiritualitas dan ideologi bisa berjalan berdampingan tanpa harus menyeragamkan pandangan.

Pramodya dan Buya Hamka: Pelajaran Toleransi

Barangkali salah satu kisah paling menarik adalah hubungan Pram dengan Buya Hamka. Pada tahun 1962, hubungan antara Pramoedya Ananta Toer dan Buya Hamka mengalami ketegangan akibat tuduhan serius yang dilontarkan terhadap karya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Pramoedya, melalui rubrik “Lentera” di harian Bintang Timur, menuduh bahwa novel tersebut merupakan hasil plagiat dari karya penulis Prancis, Jean-Baptiste Alphonse Karr, berjudul Sous les Tilleuls (Di Bawah Pohon Linden), yang disadur ke dalam bahasa Arab oleh Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi dengan judul Magdalena.

Tuduhan ini memicu polemik di kalangan sastrawan Indonesia. Beberapa penulis dan kritikus sastra dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang berafiliasi dengan ideologi kiri, mendukung tuduhan tersebut.

Di sisi lain, tokoh-tokoh seperti HB Jassin, Anas Ma’ruf, Ali Audah, Asrul Sani, dan Usmar Ismail membela Hamka, menegaskan bahwa karyanya adalah hasil orisinal yang mengangkat tema dan budaya Indonesia.

HB Jassin, seorang kritikus sastra terkemuka, menolak tuduhan plagiat tersebut. Menurutnya, “plagiat” adalah pengambilan karya orang lain sebagian atau seluruhnya dan membubuhkan nama sendiri seolah-olah kepunyaannya. Ia menegaskan bahwa Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bukanlah plagiat, melainkan karya orisinal yang mengangkat tema dan budaya Indonesia.

Hamka sendiri memilih untuk tidak banyak menanggapi tuduhan tersebut dan menyerahkan persoalan ini kepada panitia penyelidikan, menyatakan kesiapannya untuk diadili.

Meskipun sempat berseteru, hubungan antara Pramoedya dan Hamka akhirnya menemukan titik damai. Setelah perseteruan panjang, keduanya berdamai melalui cara yang tak terduga. Ketika putri sulung Pramoedya, Astuti, berencana menikah dengan kekasihnya, Daniel Setiawan, Pramoedya menegaskan bahwa ia tidak setuju jika anaknya menikah dengan seseorang yang berbeda agama. Oleh karena itu, ia meminta Daniel untuk memeluk Islam sebelum menikahi Astuti.

Tinggalkan Balasan