Pramugari Palsu dan Fenomena Pretensi Sosial

Banyak orang bertanya apakah fenomena kepura-puraan identitas sosial—seperti kasus viral seseorang yang berpura-pura menjadi pramugari demi menyenangkan orang tuanya—dapat dikategorikan sebagai kejahatan atau tidak?

Sebenarnya saya tidak tertarik merespons berita yang sedang viral tentang seseorang yang mengaku sebagai pramugari, yang memberitakan tentang seorang gadis yang nekat pura-pura menjadi pramugari hanya untuk menyenangkan orang tuanya. Namun, ada satu pertanyaan yang terus berulang muncul dari para netizen, bahkan menjadi perdebatan di berbagai ruang diskusi publik: apakah fenomena tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan atau tidak?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Berangkat dari pertanyaan kritis itulah saya menulis artikel singkat ini.

Sebelum merespons lebih jauh, saya ingin mengatakan bahwa kejadian ini sesungguhnya dapat disebut sebagai Fenomena Pretensi Sosial. Ya, ternyata Pretensi Sosial telah muncul dan berkembang juga di Indonesia, bahkan tidak lagi bersifat sporadis, melainkan mulai memperlihatkan pola yang sistemik dan berulang.

Pretensi Sosial adalah sebuah fenomena di mana seseorang, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari kelompok, berpura-pura memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada kondisi yang sebenarnya. Status sosial itu bisa berupa pekerjaan, jabatan, gaya hidup, relasi profesional, atau identitas simbolik tertentu yang dianggap bergengsi dan layak dibanggakan di mata masyarakat. Dalam konteks ini, status sosial bukan lagi sekadar posisi sosial, melainkan telah menjelma menjadi ukuran harga diri dan martabat seseorang.

Pretensi sosial memperlihatkan kondisi ketika seseorang berpura-pura menjadi profesional atau memiliki pekerjaan yang lebih penting dan lebih dihargai daripada realitas hidupnya. Ketika di dunia nyata ia gagal mencapai tujuan pekerjaan atau status yang diimpikannya, maka ia akan melakukan kepura-puraan identitas sebagai jalan pintas psikologis. Kepura-puraan itu dilakukan agar ia merasa telah mencapai tujuan hidupnya, baik untuk memuaskan dirinya sendiri maupun untuk meredam tekanan lingkungan—terutama keluarga dan masyarakat—yang kerap meletakkan ekspektasi berlebihan atas kesuksesan anak-anaknya.

Dalam kerangka ini, Pretensi Sosial tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari krisis mental manusia modern: krisis makna, krisis pengakuan, dan krisis keutuhan diri. Yuval Noah Harari dalam bukunya Nekus: “Riwayat Jejaring Informasi dari Zaman Batu ke Akal Imitasi” (KPG: 2025) menyinggung bahwa manusia modern hidup di dalam jaringan narasi sosial yang sangat kuat, narasi tentang sukses, prestise, dan pencapaian, yang sering kali tidak sejalan dengan kondisi biologis dan psikologis manusia itu sendiri. Manusia dipaksa untuk tampak berhasil, bukan menjadi utuh. Ketika gagal memenuhi narasi itu, manusia mencari kompensasi simbolik—salah satunya melalui Pretensi Sosial.

Jika individu-individu ini memiliki komunitas, maka muncul fenomena yang dampak sosialnya jauh lebih “berat”, yaitu fake office, kantor palsu, atau kerja palsu. Sepintas, fenomena ini tampak tidak merugikan siapa pun. Mereka bangun pagi, bersiap seolah hendak bekerja, mengenakan seragam kantor untuk menyenangkan keluarga. Setibanya di “kantor”, mereka berpura-pura sibuk bekerja, rapat, menelepon, mengetik, dan melakukan pertemuan dengan orang-orang yang seluruhnya juga sedang berpura-pura.

Saat sore hari, mereka menutup kantor palsunya dan pulang ke rumah dengan membawa ekspresi lelah seolah telah menunaikan kewajiban profesional. Setibanya di rumah, mereka berpura-pura kelelahan dan menikmati waktu istirahat, karena esok hari harus kembali “bekerja”. Segala yang “pura-pura” itu tentu menyakitkan. Namun, bagi kelompok ini, selama kepura-puraan tersebut mampu menyenangkan orang lain—terutama keluarga yang memberi tekanan dan ekspektasi berlebihan—maka itu dianggap telah membahagiakan mereka secara psikologis. Selain itu, kepura-puraan tersebut memberi kepuasan ego sebagai individu yang tampak memiliki keterampilan dan status sosial tinggi di mata lingkungan sekitar.

Fenomena ini dikenal dengan berbagai istilah: Fake Job, Fake Office, Faking Success, yang semuanya berakar pada satu persoalan yang sama, yaitu ketakutan manusia modern untuk dianggap gagal. Harari menyebut bahwa manusia masa kini lebih takut kehilangan pengakuan sosial daripada kehilangan kejujuran terhadap dirinya sendiri. Inilah salah satu wajah krisis mental global hari ini.

Dimulai dari Individu

Semua fenomena Pretensi Sosial sesungguhnya selalu bermula dari individu, dari ruang batin yang sunyi, dari kegamangan manusia ketika berhadapan dengan kenyataan hidupnya sendiri. Pretensi Sosial tidak serta-merta lahir sebagai niat jahat, melainkan sering tumbuh dari luka psikologis yang tidak tertangani, dari perasaan gagal yang tidak diberi ruang untuk diakui secara jujur, serta dari tekanan sosial yang memaksa manusia untuk terus terlihat berhasil.

Pada tahap ini, individu mulai membangun kepura-puraan identitas—sebuah perilaku yang dalam kajian psikologi sosial dikenal sebagai fakery. Ia berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirinya, bukan semata untuk menipu orang lain, tetapi terutama untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia membangun citra alternatif agar tetap bisa bercermin tanpa merasa sepenuhnya gagal sebagai manusia. Dalam kondisi seperti ini, seseorang tidak lagi hidup untuk bertumbuh, melainkan hidup untuk mempertahankan citra.

Bersamaan dengan itu, muncul pula perilaku self-presentation, yakni cara mempresentasikan diri secara tidak autentik demi memperoleh validasi sosial. Dalam dunia modern yang sangat terdigitalisasi, fenomena ini menemukan ruang yang sangat subur. Media sosial menyediakan panggung sempurna bagi manusia untuk mengedit hidupnya sendiri: foto diperhalus, peristiwa dipilih, lokasi dimanipulasi, bahkan emosi dikurasi. Apa yang gagal diwujudkan di dunia nyata, dipentaskan dengan rapi di dunia maya. Proses ini perlahan menanamkan “bibit-bibit kepalsuan” sebagai nilai hidup baru.

Yuval Noah Harari dalam Nekus mengingatkan bahwa ketika manusia terlalu lama hidup di dalam jejaring simbolik yang tidak jujur, maka krisis mental akan menjadi epidemi global. Manusia kehilangan hubungan sehat dengan kenyataan, kehilangan kemampuan berdamai dengan kegagalan, dan kehilangan keutuhan diri.

Jika kita menengok pada nilai-nilai tradisi, khususnya pandangan hidup masyarakat Sumba, fenomena ini dipandang dari sudut yang sangat berbeda. Dalam pandangan orang Sumba sebagaimana ditulis oleh Ngatawi Al-Zastrouw dalam buku Menggali Api Pancasila (Sulur:2025); manusia tidak diukur dari apa yang tampak di luar, melainkan dari keutuhan laku hidupnya. Hidup dipahami sebagai relasi yang seimbang antara manusia, alam, sesama, dan leluhur. Jabatan dan profesi bukan ukuran utama martabat, melainkan kejujuran hidup dan keselarasan batin.

Dalam kepercayaan Marapu, manusia yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya dianggap tidak berdiri di atas tanahnya sendiri. Para tetua adat sering mengajarkan bahwa lebih baik berjalan pelan di tanah sendiri daripada berlari dengan kaki orang lain. Kepalsuan identitas dipandang sebagai tanda keterputusan manusia dari akar hidupnya. Dalam nilai tradisi ini, kegagalan bukan aib, tetapi ketidakjujuranlah yang memalukan.

Orang Sumba mengenal ajaran bahwa manusia yang baik adalah manusia yang lurus hati dan lurus langkahnya—apa yang ada di dalam batin sejalan dengan apa yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi manusia utuh jauh lebih penting daripada menjadi manusia yang tampak hebat. Tradisi mengajarkan kesabaran, penerimaan proses, dan keberanian berdamai dengan kenyataan, nilai-nilai yang justru semakin tergerus dalam dunia modern yang memuja pencitraan.

Kejahatan atau Bukan?

Semua fenomena Pretensi Sosial ini tidak selalu dapat dianggap sebagai kejahatan. Beberapa pemberitaan memperlihatkan bahwa di Tiongkok, misalnya, terdapat sekelompok anak muda pengangguran dari keluarga sukses yang menyewa kantor palsu agar setiap hari bisa “bekerja”. Tidak ada pihak lain yang dirugikan. Justru, merekalah yang dirugikan secara finansial, waktu, dan kesehatan mental, semata-mata demi menyenangkan orang tua dan menjaga martabat keluarga di mata masyarakat.

Namun, Pretensi Sosial dapat dikategorikan sebagai kejahatan apabila kepura-puraan tersebut digunakan untuk memperoleh keuntungan finansial atau material, memeras orang lain, menggunakan identitas palsu untuk fasilitas tertentu, menimbulkan kerugian finansial maupun emosional, melanggar hak orang lain, atau mengancam keselamatan publik. Jika indikator-indikator tersebut tidak terpenuhi, maka Pretensi Sosial lebih tepat dipahami sebagai masalah psikologis dan sosial, bukan tindak kriminal.

Orang yang melakukan Pretensi Sosial umumnya mengalami masalah kepercayaan diri, kebutuhan validasi yang berlebihan, serta tekanan ekspektasi sosial yang tidak realistis. Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukan penghakiman, melainkan pendekatan empatik dan suportif, agar individu tersebut tidak semakin tenggelam dalam kepalsuan yang lebih luas.

Namun, apabila Pretensi Sosial telah menjurus pada kejahatan, maka selain penyelesaian hukum, rehabilitasi psikologis menjadi kebutuhan mendesak. Bagiamana pun, masyarakat masa depan tidak hanya membutuhkan kecerdasan teknologi, tetapi juga kesehatan mental kolektif agar manusia tidak runtuh di tengah jaringan ilusi yang ia bangun sendiri.

Januari 2026.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan