Di esai Kwitang! Kwitang! (1983), misalnya, ada dua tulang utama yang menjadi penopang. Pertama adalah etnografi. Gus Dur memulainya dengan uraian etnografis tentang bagaimana kondektur bus PPD lin 14A mengubah teriakan jurusannya untuk menggaet jamaah pengajian hari minggu Habib Ali Kwitang.
Tulang kedua adalah sosiologi klasik. Mula-mula, tulang sosiologi dibuka dengan kacamata Marxian soal materialisasi. Gus Dur menggarisbawahi bagaimana kegiatan yang tampaknya murni sakral, ternyata dapat memicu geliat ekonomi:

“Sesuatu yang begitu kudus dan syahdu kalau dilihat dari pengalaman pribadi sang ‘pemeluk teguh’ (kalau dipinjam istilah Chairil Anwar), ternyata dengan proses kualifikasi berubah menjadi sesuatu yang berdimensi sangat duniawi: keinginan para pemeluk teguh itu untuk mencari kedamaian tuntas dimanfaatkan demi keuntungan mereka yang bisa menawarkan jasa dan barang untuk kebutuhan para pemeluk teguh itu.”
Lalu disebutkanlah oleh Gus Dur beberapa jenis komoditasnya seperti peci, karpet haji, minyak wangi khas Arab, gambar Masjidil Haram, hingga obat kuat, kadal mesir, dan minyak kuda. Sebagai pamungkas atas telaahnya melalui kacamata Marxis, Gus Dur menulis:
“Dalam keadaan seperti itu, sebagai wilayah agama lalu berada di bawah pengayoman wilayah ekonomi, seperti terlihat dalam kasus bus kota PPD yang di hari minggu pagi menjadi ‘industri angkutan keagamaan’.”
Setelah kacamata Marxis, Gus Dur kemudian menggunakan kacamata Weber untuk mengungkap bagaimana institusionalisasi suatu hal (agama, kesamaan hobi, atau apa pun itu) juga memengaruhi logika tujuannya.
“Dalam keadaan demikian, agama semula berfungsi sebagai ajaran, lalu berubah fungsi menjadi institusi atau kelembagaan. Kepentingan lembaga keagamaan dengan mudah lalu disamakan dengan kepentingan ajaran agama itu sendiri.”
Apakah efek dari komodifikasi dan institusionalisasi agama? Pertanyaan ini dijawab Gus Dur dengan memakai kacamata sosiologi milik Durkheim tentang penyematan sakralitas pada simbol.
