Prisma Pemikiran Gus Dur (2): Kiai Banyak Kacamata

“Dari situ, bermulalah sebuah proses penduniawian kehidupan beragama dalam bentuknya yang paling kongkret: agama sama dengan acara-acara tertentu. Akibatnya, bukan ajaran agamanya yang disucikan, diagungkan, dan disyahdukan, tetapi upacara-upacara yang mendukungnya itulah yang diagungkan.”

Melalui tiga kacamata sosiologi klasik itu, Gus Dur mengungkap struktur dimensi keduniawian agama. Bagi sebagian kalangan yang bergelut atau menaruh minat pada wawasan sosial, hal itu lumrah saja. Tapi bisa sangat asing, atau bahkan tak bisa diterima, bagi sebagian kalangan lain yang terpaku pada wawasan transeden semata, karena analisa-analisa seperti itu dipandang sebagai produk dari pemikiran di luar Islam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Akan tetapi, hanya karena berasal dari luar Islam, bukan berarti tak ada manfaat. Kacamata-kacamata yang demikian, sekalipun dicipta oleh orang non-beragama, dapat memberi nuansa yang lebih kaya bagi kita untuk memandang dimensi kehidupan dunia, yang kemudian memberi kita kemampuan untuk mengidentifikasi titik mana yang sekiranya bisa diretas untuk kemajuan hidup yang lebih baik.

Yang spesial dari Kwitang! Kwitang! adalah kemampuan Gus Dur dalam melihat hal remeh (teriakan kondektur dan rute bus) sebagai pucuk dari gunung es fenomena sosial yang lebih besar. Pada titik ini, seabrek “koleksi kacamata” ataupun teori tidak akan berguna apa-apa kalau tidak diimbangi oleh sensitivitas dalam melihat gejala dan sentivitas dalam menggunakan kacamata sesuai konteksnya.

Gus Dur sadar bahwa segala yang disorotinya pada bus PPD 14A beserta penumpangnya adalah bagian tak terpisah dari kehidupan modern. Ia juga sadar kalau kacamata-kacamata seperti Marx, Weber, ataupun Durkheim merupakan produk asli masyarakat era awal modern yang dipicu oleh kekuatan industri dan ekonomi abad ke-19, yang tentu tidak sepenuhnya berlaku di kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, Gus Dur membuat pengeculian sebelum di bagian akhir Kwitang! Kwitang!:

“Syukurlah ternyata kecenderungan seperti itu tidak mutlak ada di mana-mana. Penghayatan masyarakat ternyata juga berbeda dari satu ke lain tempat, dari satu ke lain lapisan masyarakat, dan dari satu ke lain waktu.”

Apakah Gus Dur hanya menggunakan pendekatan sosial-antropologis dalam melihat berbagai isu sosial? Tidak. Esai Tuhan Akrab Dengan Mereka (1983), misalnya, Gus Dur menggunakan analisis wacana yang digabungkan dengan wawasan sastra untuk membedah imajinasi anak-anak tentang kehidupan, Tuhan, dan bentuk mentalitas mereka.

Di esai Sang Romo, Rumah dan Bambu (1976), Gus Dur menggunakan pendekatan Science, Technology and Society (STS)―sebuah disiplin yang umumnya populer di negara-negara maju tentang pengkajian desain dan dampak teknologi di masyarakat―untuk menyoroti desain rumah bambu yang terjangkau bagi orang miskin, tidak merusak lingkungan, namun tetap aman dan kuat.

Tinggalkan Balasan