Andai kita tak pernah benar-benar bertemu
Di bawah gerimis yang berguguran satu-satu
Andai tembok yang tinggi mampu halangi jatuh hatiku padamu
Andai ‘andai’ memberiku pilihan berandai-andai
Aku ingin menjadi dirimu pada lima tahun yang lalu
Hanya akan kutulis puisi tentang daun-daun yang tumbuh kemudian luruh
Sepasang capung yang hinggap dan pergi di pohon depan rumahmu
Biar cukup semesta yang sajak dalam diriku

Hingga mungkin tidak aku kenali seorangpun perempuan lagi
Malam-malam yang amat tuhan tak tercuri
Aku hanya akan menjadi baris-baris dalam puisiku
Berdiam dalam kesepian yang tanpa ujung itu
Andai kita tak pernah benar-benar bertemu
Yogyakarta, Desember 2022.
ilustrasi: teh tawar.
