“Ya Bu, saya juga mohon izin menelepon ibu saya.”
“Assalamualaikum, Ibu Maisaroh.” Seorang laki-laki, bertubuh agak gemuk berkacamata mengucap salam kepada Bu Mai.

“Waalaikumsalam.”
“Saya Pak Arif, Official Aksioma Jawa Timur. Pertama saya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilanmu ya, Alzia.”
“Terima kasih Bapak. Ini berkat bimbingan Bu Mai dan orang tua saya.”
“Ya Zia, tentu dengan kerja kerasmu juga. Bu Maisaroh, saya cuma ingin menyampaikan bahwa Alzia akan sering menjadi pengisi acara dalam berbagai kegiatan Kemenag baik dari tingkat kabupaten sampai nasional. Bahkan jika memungkinkan akan diikutkan dalam ajang lomba internasional.”
“Baik Pak Arif. Tetapi saya harus meminta izin kepada Abah Zunaidi, Pengasuh Pesantren Al-Hidayah. Zia, kamu juga harus izin orang tuamu dulu.”
“Baik Bu Mai, nanti saya akan telepon ibu.”
“Baik jika bisa nanti disegerakan ya? Saya rasa cukup itu saja yang saya sampaikan. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawaban kompak itu keluar dari mulut Bu Mai dan Zia.
“Zia lekas telepon orang tuamu. Saya akan menelepon Abah Zunaidi.”
Zia mengeluarkan HP sederhananya. Ditekannya simbol telepon hijau. Hanya ada dua nomor yang ada di riwayat panggilan yaitu nomor ibunya dan Bu Mai. Kemudian, ditekanlah nomor ibunya.
“Assalamualaikum, anakku yang cantik dan pandai.”
“Waalaikusalam Ibu. Bagaimana kabar Ibu? Ayah juga baik-baik saja?”
“Alhamdulliah Zia, semua baik-baik saja. Kapan pulang? Ibu sudah sangat kangen.”
Aminah memang sangat mencintai Zia. Ia memang tak bisa berpisah jauh dengan Zia. Makanya, Zia dipondokkan di Al-Hidayah, pondok pesantren yang jaraknya tidak ada satu kilometer dari rumahnya.
“Iya bu, saya juga sangat kangen dengan suapan Ibu. Kangen masakan ibu. Kangen semua tentang Ibu. Insyaallah besok akan pulang. Saya punya kabar, Bu. Entah ini menggembirakan atau menambah beban hatiku.”
“Jangan berkata begitu Zia. Tugas kita hanya melakukan yang terbaik, berdoa, dan bertawakal. Apa pun hasilnya itulah yang terbaik untuk kita. Yakinlah, Allah tidak akan memberikan keputusan yang menyusahkan hambanya.”
“Iya Bu.” Alzia sejanak diam.
