“Saya tadi memenangkan lomba.” Belum sempat selasai berucap, ibunya meluapkan kebahagiaannya.
“Alhamdulillah. Doa Ibu terwujud. Kamu berhasil mencapai citamu, membuat bangga orang tua, dan mengenalkan Pondok Pesantren Al-Hidayah.”

“Alhamdulillah, Ibu. Tetapi saya mungkin akan sering tidak di pesantren. Tadi, Official Aksioma Jawa Timur menyampaikan kepada kami, mulai sekarang sampai tahun depan akan ikut menjadi pengisi acara tingkat kabupaten sampai nasional yang diadakan Kementrian Agama. Saya tidak bisa menimba ilmu kepada Bu Nyai Rohmah, Bu Mai, dan lainnya. Saya merasa masih ada banyak hal yang belum saya kuasai sedangkan tahun depan saya sudah lulus.”
“Jika itu tugas dari negara berarti harus dipenuhi, Nak. Kamu sebagai santri harus mengutamakan tugas negara daripada kepentingan pribadi. Nanti saya akan bicara kepada Bu Mai agar meminta pertimbangan kepada Abah Zunaidi.”
“Baiklah Ibu, terima kasih atas nasihat ibu. Saya sangat bangga menjadi anak dari ayah dan Ibu.”
“Sudah jangan bersedih, doa dan restu ibu selalu mengiringi langkahmu. Apa ada yang masih ingin kamu sampaikan kepada ibu?”
“Sementara ini tidak ada. Sampaikan salam hormat saya kepada Ayah. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ada yang membuat Zia tidak bisa bertelepon lama dengan ibunya yaitu terdengar pengumuman yang berisi Kontingen Aksioma Jawa Timur diminta berkumpul di ruangan tempat parkir.
***
“Zia, kita tinggal menunggu hasil salat istiqarah Abah Zunaidi.”
“Ya Bu.”
Zia duduk di pinggir jendela. Matanya menatap ke hamparan awan putih. Mulutnya komat-kamit tanpa suara. Ia melantun dalam diam ayat-ayat al-Quran yang terukir di pikirannya. Sementa Bu Mai, yang duduk di sebelahnya memejamkan mata. Ia kelelahan karena seharian mondar-mandir di depan ruang ujian Aksioma Tahfiz Putri.
Sesaat kemudian, terjadi guncangan. Tiba-tiba di bagian atas tempat duduk keluar selang bening yang terhubung dengan masker oksigen dan pelampung kuning. Semua penumpang mulai panik histeris. Ada suara wanita yang berbicara melalui speaker.
“Penumpang harap tenang. Jangan meninggalkan tempat duduk. Mesin pesawat mengalami gangguan sehingga kita akan mendarat darurat. Untuk keselamatan penumpang, silakan dipakai pelampung kemudian masker oksigen.”
Seisi kabin riuh. Lampu dalam pesawat kemudian padam. Hanya teriakan yang bercampur dengan tangisan histeris yang ada dalam pesawat itu.
Zia tetap melantunkan ayat-ayat Quran. Karena dengan itu, Zia merasa tidak bisa mendengar riuh-riuh kepanikan penumpang pesawat. Tekanan udara yang berubah drastis menekan gendang telinga mereka. Semua telinga-telinga penumpang serasa semakin berdengung menyakitkan. Kepala Zia semakin sakit serasa semua udara masuk lewat hidung, telinga, dan mulut kemudian memenuhi otaknya. Tapi, Zia tak henti-hentinya melantunkan ayat-ayat suci.
Badan pesawat melaju ke bawah semakin cepat. Jarak ke tanah semakin dekat. Walaupun pilot berusaha mengendalikan benturan badan pesawat ke tanah sudah tak terelakkan. Tapi ada yang aneh, ketika semakin lama tubuh Zia merasa melayang. Ia merasakan ada tangan-tangan yang mengangkat tubuhnya hingga melayang.
***
