Berikut ini beberapa puisi Rabi’ah yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk dengan hujan. Senantiasa mewarnai derap kehidupan, terutama di kalangan para pujangga dan sastrawan.
“Ya Allah, apa pun yang akan Engkau//Karuniakan kepadaku di dunia ini,//Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu//Dan apa pun yang akan Engkau//Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,//Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu//Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku.”

“Aku mengabdi kepada Tuhan//bukan karena takut neraka//Bukan pula karena mengharap masuk surga//Tetapi aku mengabdi,//Karena cintaku pada-Nya//Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka,//bakarlah aku di dalamnya//Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga,//campakkanlah aku darinya//Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,//Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu//yang abadi padaku.”
“Alangkah buruknya,//Orang yang menyembah Allah//Lantaran mengharap surga//Dan ingin diselamatkan dari api neraka#Seandainya surga dan neraka tak ada//Apakah engkau tidak akan menyembah-Nya?#Aku menyembah Allah//Lantaran mengharap ridha-Nya//Nikmat dan anugerah yang diberikan-Nya//Sudah cukup menggerakkan hatiku//Untuk menyembah-Mu.”
“Alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta//Hatinya menggelepar menahan dahaga rindu//Cinta digenggam walau apapun terjadi//Tatkala terputus, ia sambung seperti mula//Lika-liku cinta, terkadang bertemu surga//Menikmati pertemuan indah dan abadi//Tapi tak jarang bertemu neraka//Dalam pertarungan yang tiada berpantai.”
Itulah beberapa puisi cinta Rabi’ah al-Adawiyah yang dinukil dari buku Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, editor Asfari MS dan Otto Sukatno CR. Sebagai Ratu Puisi Cinta, Rabi’ah al-Adawiyah sudah tidak dapat diragukan lagi. Seorang perempuan suci yang rela tidak menikah selama hidupnya karena cintanya kepada-Nya harus terbagi. Maka, sangat menjadi nisacaya kalau Rabi’ah al-Adawiyah adalah tokoh sufi cinta sepanjang sejarah. Wallahu A’lam!
