Karna pun tahu yang diucapkan Radha. Ia pun menangis sekeras-kerasnya, hingga malam yang gelap sunyi menjadi pecah. Batara Surya yang berada di Suryaloka pun juga kebingungan karena anak yang muncul akibat anugrahnya kepada Dewi Kunthi sekarang tidak ada yang merawat. Batara Surya pun turun ke bumi dengan menjelma menjadi seorang laki-laki yang membawa seekor sapi perah, ia lewat depan rumah Adirata. Kemudian mengetuk pintu rumah.
“Ada perlu apa, bapak mengetuk pintu ini malam-malam?” tanya Adirata.

“Hamba tersesat Tuan, hamba pulang dari Kota Raja Astinapura, ingin pulang ke Mandura. Apakah Tuan tahu jalan menuju Mandura?”
“Malam-malam begini mau ke Mandura, perlu waktu seminggu untuk ke sana. Apakah tidak sebaiknya Bapak istirahat di sini? Apalagi Astinapura sedang banyak begal, perampok, penculik, dan penjahat lainnya. Sangat berbahaya kalau Anda melintasi hutan antara Mandura dan Astinapura.”
“Terima kasih Tuan mengizinkan hamba istirahat di sini, biarkan aku merebahkan di kursi bambu di bawah pohon itu sambil mengawasi lembu saya. Sebagai ucapan terima kasih hamba izinkan yang Tuan berikan susu perah kepada putra Tuan. Kelihatannya putra Tuan kehausan.”
“Tentu Pak, saya juga merasa terima kasih, karena Karna belum makan sejak tadi petang.”
Adirata langsung mengambil kendi beserta gelas kecil. Kemudian ia berikan kepada jelmaan Batara Surya tersebut. Karena itu merupakan sapi para dewa, akhirnya susu itu mampu mengenyangkan perut Karna.
“Siapakah nama Bapak?”
“Hamba Parta Tuan, penjual sapi dari negeri Mandura.”
Bersama tidurnya Karna. Batara Surya kembali ke Suryaloka. Ia meninggalkan sapinya untuk Karna.
***
Karna tumbuh manjadi anak remaja, tapi bukan sebagai putra seorang Putri Kunthi dari Mandura, melainkan sebagai anak kusir kerata Kerajaan Astina, Adirata. Berkat susu sapi para dewa, Karna cepat tumbuh dan cerdas. Kecerdasan bawaan yang berupa anugrah Dewa Surya, semakin terasah. Adirata juga mengajari nilai-nilai budi pekerti dan kepahlawanan yang baik melalui cerita-cerita Ramayana, Arjuna Wiwaha, dan yang lainnya.
Kini darah kesatrianya mulai menampakan diri. Saat ia melihat para pangeran Astinapura berlatih, secara sembunyi-sembunyi Karna mengintip. Karna mencoba menirukan latihan-latihan tersebut. Sebenarnya ia ingin mengungkapkan langsung kepada Pandhita Durna, jika ia ingin juga diajari seperti pangeran-pangeran Astinapura itu. Tapi ia hanyalah anak kusir kuda Kerajaan Astina. Ia tidak yakin Pandhita Durna akan mengizinkannya.
“Nak Ayo pulang, tidak baik kamu belajar ilmu tanpa izin si pemiliknya.”
“Semua orang berhak untuk memperoleh ilmu perang Ayahnda. Apakah hanya kasta kesatria saja yang berhak mempelajari ilmu perang?”
