“Iya anakku, kita kasta rendah hanya bisa menjadi pelayannya. Kita tidak boleh belajar ilmu perang. Karena jika kasta rendah memiliki ilmu perang, mereka akan memberontak kepada kasta kesatria. Jika demikian, perang antara kasta rendah dan kesatria tak akan terelakan lagi. Kalau kasta rendah ketahuan mencuri ilmu kesatria, bisa-bisa malah dihukum mati.”
***

Secara sembunyi-sembunyi Karna terus mengulang-ulang gerakan yang pernah dilihatnya saat mengintip para pangeran Astinapura. Ia pun belajar membuat gerakan-gerakan sendiri. Ia membuat sebuah gandiwa dan anak panah sendiri. Tanpa harus dilatih oleh seorang guru, ia menjadi pemanah mahir. Ia juga berlatih jurus-jurus menggunakan keris, gada, dan senjata lainya. Tapi kemampuan utamanya dirasakannya adalah memanah. Itu semua berkat anugrahnya Batara Surya ketika ia akan di buang ke Sungai Aswa.
Ketika Sang Surya mulai pergi tenggelam di ufuk barat, Radha baru keluar dari hutan untuk mengambil beberapa buah dan sayuran untuk santap malam. Ada seekor harimau yang sedang mengendap-endap dari semak-semak di belakangnya. Karna yang menyadari bahwa ada yang aneh di balik semak-semak bersiap-siap menghunus kerisnya dan menghampiri gandiwa dan anak panah.
Harimau pun berlari, mengaum ke arah Radha. Karena gugup, Radha pun terjatuh. Karna mencoba membidikkan gandiwanya ke arah kepala harimau itu.
“Aaahhh…” Radha berteriak.
“Tenanglah ibu jangan bergerak.”
Teriakan Radha membuat Adirata bergegas menghampiri kebun belakang rumah, sumber suara Radha.
“Radha!” Teriakan ini berulang terjadi dan mengiringi langkah Adirata menuju perbatasan desa dengan hutan.
Anak panah itu melesat menuju kepala harimau. Tepat di ubun-ubun di atas mata kanan, anak panah itu bertumbukan. Ternyata anak panah bagaikan tebikar tipis yang menghantamnya, hanya meninggalkan luka gores berdarah. Harimau berhenti sejenak karena hanya berdarah dan terluka luar. Tanpa berpikir panjang, Karna lari secepat kilat kemudian menghujamkan ujung kerisnya ke leher harimau.
Adirata yang datang melihat adegan tersebut hanya diam, kaku karena ketakutan. Karna dan harimau itu terus begulat, berguling. Harimau menggigit tangan kiri Karna, Karna membalas dengan enam hujaman cepat keris ke tenggorokan harimau. Harimau mencakar dada sampai perut Karna, tapi tak mampu melukainya karena ada zirah anugrah Batara Surya. Karna membalas dengan tusukan ke kedua mata harimau. Harimau itu berdarah semakin mengucur deras. Harimau pun limbung karena kehabisan darah, dan tangan kiri Karna terluka berdarah.
Sejak peristiwa Karna menyelamatkannya, rasa kebencian Radha berubah menjadi kecintaan. Radha menyadari ternyata selama ini Karna sangat menyayangi Radha, tidak sedikit pun menyimpan dendam dalam hatinya. Radha mengakui perbuatan yang selama belasan tahun mengabaikan Karna itu salah. Radha menyesalinya. Diakuilah Karna menjadi anak Radha. Ia langsung datang memeluk Karna yang masih duduk di atas perut harimau yang mati karena tusukan keris Karna. Adirata haru atas membaiknya hubungan ibu dan anak itu.
“Karna anakku, aku akan memberi nama baru Radhea kepadamu. Radhea, yang berarti putra Radha.”
“Iya Ibunda, aku akan bangga jika orang-orang memanggilku Radhea.”
“Syukurlah Tuhan, engkau telah memberikan seorang anak gagah berani.”
