Radikalisme dan Istinbat Dalil Jihad

Dari sini bisa kita pahami, bahwa dalil-dalil tentang jihad yang mereka interpretasikan adalah benar adanya. Namun, prespektif mereka soal merealisasikan dalil sedikit kurang objektif. Sehingga semua dalil yang mengandung jihad dipahami secara tektual, lalu diinterpretasikan seolah-olah sasaran jihad adalah semua perkara yang mengandung kemaksiatan, kebatilan, dan anarkisme, meskipun yang melakukan adalah saudara sendiri: kaum muslimin.

Ayat-ayat dan hadis-hadis Nabi harus dipahami secara komprehensif-kontekstual; upaya menampilkan kebenaran pada setiap peristiwa yang terjadi, juga penalaran yang didasari oleh nash (Al-Quran dan hadis) yang dianalogikan dengan kausalitas sosial masyarakat (qiyas), bukan sekadar dipahami secara tekstual yang akan mengarah pada redaksi hadis saja, tanpa memandang asbabun wurud (sebab adanya dalil tersebut) dan abrogasi (nasakh dan mansukh) sebuah dalil.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Singkat kata, tidak semua dalil yang mereka interpretasikan bisa diimplementasikan. Islam mengutamakan kedamaian dan melarang adanya perpecahan. Sabda Nabi Muhammad Saw: “Perbedaan pendapat di antara umatku adalah bentuk rahmat Allah.” Selaras dengan itu, apa yang disampaikan oleh Gus Dur: “Islam melarang adanya perpecahan, bukan perbedaan.”

Wallahu a’lam bisshowab…

Tinggalkan Balasan