“Membangun rumah dengan tangan sendiri bukan hal gampang, banyak risikonya. Dan sejauh ini, kakekmu aman-aman saja. Bukan hanya itu, Rat. Ibu sering melihat kakekmu komat-kamit nggak jelas sama radionya. Entah, uang darimana kakek dulu bisa melunasi semua utang-utang di bank tanpa pekerjaan yang jelas,” Ibu berusaha menyakinkanku.
“Berarti ibu mendoakan supaya Kakek nggak selamat.” Mendengar prasangka ibu barusan darahku membubung naik. Tak ingin berdebat panjang dengan emosi yang menggelegak. Aku pun beringsut meninggalkan ibu di ruang tamu sendirian.

Tidak ada yang salah dengan perkataan ibu. Hati kecilku percaya bahwa kakek memiliki sebuah kelebihan. Keyakinan itu kian bulat saat ia menceritakan radio dan masa lalunya. Namun, aku teramat kecewa dengan kalimat terakhir ibu tadi. Seolah ulu hatiku tercabik nyeri. Bagaimana tidak. Kakek satu-satunya orang terdekatku selama ini. Sejak kecil hingga dewasa, tak satu pun keluh kesah yang luput kubagi dengannya. Dan saat aku mondok, kakek jualah yang paling sering menjenguk kala orangtuaku sering absen sebab pekerjaan.
“Apa memiliki suatu kelebihan itu pertanda buruk?” Kegelisahan ibu menyisakan pertanyaan dalam diriku dan entah siapa yang dapat menjawab. Aku urung bercerita pada ayah, apalagi nenek. Meski hidup berpuluh tahun dengan suaminya, nenek kerap berkelakar yang membuatku enggan bertanya. Sementara, ayah banyak menghabiskan waktu di kantor. Bukankah kelebihan memberi dampak manfaat jika kita menggunakannya di jalan kebaikan, batinku menyakinkan. Dan sejauh ini pula, aku tak pernah melihat tingkah aneh kakek selain menyendiri di kamar belakang dengan radio kesayangannya. Lebih baik kusimpan saja pertanyaan itu untuk kuceritakan langsung pada kakek keesokan hari.
***
Pagi itu, kakek mendadak pergi ke kampung halaman. Biasanya, ia selalu memberitahuku jika akan pergi sekaligus bertanya oleh-oleh`yang kuinginkan. Tak hanya itu, ia menyiapkan beragam hadiah untuk sanak saudara yang ada di sana. Namun, kali ini kakek pergi hanya membawa radio kesayangannya. Dan sebagai ganti, aku menemani nenek di rumah selama beberapa hari.
Seperti yang sudah-sudah, kakek tak pernah pergi lebih dari tiga hari. Aku hafal betul sebab di hari ketiga aku tak pernah luput menanti ketukan pintu, lalu menyambutnya dengan wajah berseri-seri. Menikmati oleh-oleh dari tanah kelahirannya. Sayangnya, hingga hari keempat belum ada tanda-tanda kepulangannya.
“Kok kakek belum pulang ya, Nek?” tanyaku pada nenek dengan muka masam.
“Sudah tunggu saja. Mungkin masih di jalan,” jawabnya berusaha tenang. Kulihat raut muka nenek menyembunyikan kecemasan yang sama. Tak lama terdengar salam dan ketukan pintu. Aku terperanjat dan segera menghambur. Ternyata, dugaanku salah. Tampaklah ayah datang menyampaikan sebuah kabar. Kakek dikabarkan meninggal saat membantu memadamkan ladang sawah yang dilalap jago merah.
***
“Radio ini kami temukan di samping jasadnya,” tutur Pak Husni, tetua kampung. Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Sesekali menyeka bercak air di sudut mata. Abu menempel di beberapa bagian radio tersebut. Menandakan benda tersebut selalu bersamanya hingga detik ajal menjemput.
“Beliau orang sae, loman, dan banyak membantu. Sebelum kejadian itu, ia ikut memperbaiki genteng di rumah.” Sorot matanya menyorotkan rasa prihatin.
“Mungkin, sudah jalannya memilih beristirahat di sini,” celetuk sanak saudara saat pengajian berlangsung.
Aku pun beringsut ke kamar yang dihuni kakek selama menginap. Dadaku sesak tak kuasa menahan kesedihan. Tak peduli dengan mataku yang mulai tumbuh benjolan sebab menahan pilu sejak semalam. Lalu, mendekap radio kesayangannya. Kenangan berputar menampar-nampar wajahku yang sembap, juga beragam pertanyaan yang hanya kutelan selamanya seorang diri. Sayup-sayup, terdengar gemerisik radio dan dendangan lagu “Kompor Meleduk” yang lambat laun mengiringiku terlelap. Samar-samar kudengar suara kakek bergumam mengajariku sebuah wangsit.
