Ibu berjuang mencari nafkah di negeri orang selama bertahun-tahun meninggalkan kami di sini. Dengan berat hati kami harus dititipkan dengan seseorang yang tak memiliki ikatan darah dengan kami. Saudara kami sebenarnya banyak, namun tidak satupun yang mau membantu. Aku harus berpisah dengan ibu bahkan sejak aku masih belum masuk bangku sekolah.
Seiring berjalannya waktu, bukan hanya rasa penasaranku yang terbendung, namun rasa benciku kepada ayah mulai muncul. Apalagi setiap kali teman-teman mengejek aku anak yatim. Setiap aku ditanya oleh mereka siapa nama ayahku, aku mulai menjawab dengan asal-asalan. Kadang Supra, kadang Supri, kadang Bambang, kadang Yanto. Biarkan saja mereka menganggap aku ngawur.

Aku pernah membicarakan perihal ini kepada kakak. Namun, kakak justru marah kepadaku karena berkali-kali membahas tentang ayah. Kami pun mulai berdebat. Aku juga marah kepadanya; mengapa dia tidak ikut berusaha mencari sosok ayah agar ibu tidak harus bekerja keras.
Aku juga mulai menyalahkan ibu yang selalu menutup-nutupi siapa ayah kami. Aku juga ingin memiliki ayah sama seperti teman-temanku. Yang menjadi sosok yang aku teladani, aku idolakan, bukan yang aku benci. Kalau memang sosok ayah kami telah hilang, maka hadirkanlah sosok ayah baru sama seperti temanku.
Pertanyaan itu masih saja bersarang di benakku sampai aku dewasa. Hingga pada suatu hari ada dua orang laki-laki datang ke rumah secara bergantian. Dua laki-laki itu dalam kondisi kesehatan yang tampak tidak baik-baik saja. Sejak kedatangan kedua laki-laki itu aku sering melihat ibu menangis. Apa yang mereka perbuat hingga membuat ibu menangis. Ibu sering diam, melamun di teras rumah.
“Bu, siapa dua laki-laki yang kemarin datang kemari sehingga membuat ibu harus berkali-kali menangis?”
“Besok kedua laki-laki itu datang lagi. Kalian harus ikut menyambutnya.”
Hanya itu jawaban ibu, tanpa menjelaskan siapa mereka. Esoknya kedua laki-laki itu datang. Kami juga ikut menyambut kedua laki-laki itu. Hanya keheningan yang kami rasakan dalam situasi yang tidak kami mengerti. Hanya ibu dan kedua laki-laki itu yang merasakan. Kedua laki-laki itu mulai mengusap air mata mereka. Lalu duduk mendekati kami berdua, dan berkata, “Tolong maafkan kami.”
Aku dan kakak kebingungan. Sebenarnya ada rahasia apa yang mereka sembunyikan dari kami. Namun tidak satupun dari mereka yang berani menjelaskan.
“Kalian berdua pulanglah, dan jangan pernah kesini lagi. Kalian tidak akan mampu menghadapi kedua anak ini. Aku akan berusaha meminta apa yang kalian inginkan dari mereka. Namun jangan meminta lebih dari itu!”
Pada akhirnya ibu sadar, serapat apapun dia menutupi fakta tentang ayah, suatu hari nanti kami harus tahu, dari benih siapa kami ini berasal.
