Rahasia Ibu

“Kalian tahu mengapa wajah kalian sangat berbeda, bahkan juga tidak mirip dengan ibu?”

Memang benar wajah kami sangat berbeda. Bahkan kami juga tidak mirip dengan ibu. Sejak kecil tidak sedikit teman-temanku yang mengejek bahwa kami ini bukan adik dan kakak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Karena kalian mirip dengan ayah kalian. Seperti benang di belah dua. Kalian memiliki ayah yang berbeda. Dua laki-laki itu adalah ayah kalian. Kalian bisa bayangkan, bagaimana tersiksanya ibu setiap kali melihat wajah kalian sangat mirip dengan laki-laki yang dua kali mengkhianati ibu dengan cara yang sama. Ibu hampir putus asa memutuskan menelantarkan kalian saja, namun hati nurani ibu menolak keras. Bagaimanapun juga kalian anak-anakku. Harta yang paling berharga yang hanya boleh dimiliki oleh ibu. “

Kenyataan ini ternyata lebih menyakitkan dari yang kami bayangkan. Bukan hanya kami yang hidup tak berayah; ternyata kami adalah saudara tiri.

Dua kali ibu menikah, berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik, namun justru dua kali dia dikhianati dengan cara yang sama. Ayah kami tergoda dengan wanita lain. Menelantarkan kami begitu saja. Dan kini mereka mendapatkan karma, menerima balasannya. Mereka justru berebut untuk meminta maaf dan hak sebagai suami. Sungguh, tak tahu malu.

Namun luka ibu telanjur dalam. Ibu dengan tegas menolak permintaan mereka. Kini aku tahu mengapa ibu tidak mau menikah lagi. Kini aku tahu mengapa jawaban ibu tetap sama setiap kami bertanya siapa ayah kami.

“Kami harus apa, Bu?”

“Maafkanlah mereka meski itu sulit dan membutuhkan waktu lama. Ibu sudah memaafkan mereka. Hanya memaafkan, tidak lebih. Setiap orang pasti memiliki luka. Ada yang mudah menyembuhkan hingga habis. Ada yang mampu menyembuhkan, namun menyisakan secuil luka. Jika kalian memutuskan untuk mengubah secuil luka itu menjadi dendam, maka kalian akan hancur. Jika kalian mengubah secuil luka itu menjadi pengampunan, maka kalian akan mulia.”

Ibu membelai wajah kami yang menangis di pangkuannya. Amarah kami belum reda. Entah luka ini akan kami ubah menjadi dendam atau pengampunan. Ibu benar, kami memang anak-anak ibu. Hanya anak ibu.

Sumber ilustrasi: pinterest.

Tinggalkan Balasan