Ramadan, Jogja, dan Angkringannya

Sudah satu minggu lebih badan gemuk ini menghirup udara Jogja (baca: Yogyakarta). Sudah beberapa kali pelesir ke berbagai tempat wisata. Ada wisata untuk menenangkan kepala dan pikiran. Atau, jauh lebih dalam lagi, nyabis ke tempat-tempat keramat, seperti maqbarah, asta, dan tempat-tempat wisata religi lainnya.

Benar sekali kata Joko Pinurbo (penyair sekaligus murid dari Sastrawan favoritku: Eyang SDD), “Jogja terbuat dari Rindu, Pulang, dan Angkringan.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari sepanjang perjalananku di Jogja, rasa-rasanya munafik sekali bila tidak melabelkan kota ini sebagai kota istimewa. Sebab, benar-benar seistimewa itu. Mulai dari tempat-tempatnya, orang-orang di dalamnya, toko-toko buku bacaan, segala angkringan di pinggir jalan, dan tak kalah lengkap juga varian kafe-kafenya.

Orang-orang Istimewa

Di kampungku (baca: tempat tinggalku), jarang sekali kutemukan perbincangan intim yang menyeruak dari altar angkringan dan kafe-kafe. Sulit sekali kutemukan halaqah-halaqah, lingkaran kajian, dan diskusi di halaman kampus dan masjid-masjid. Semua itu baru kutemukan di Jogja ini.

Setiap kali masuk ke kafe, memesan gorengan pisang dan kopi, lantas duduk random di tempat yang belum terisi, tanganku mulai meraih buku dari tas yang biasa kubawa ke mana-mana. Entah seperti ada daya magis tersendiri, mata-mata di sekitar bergantian melihatku, hingga akhirnya beberapa orang berani mendekatiku dan bertanya-tanya soal buku apa yang dibaca.

Akhirnya, dari kerandoman itu, hampir di semua kafe yang kutemui, baik di kafe Basabasi, Bento, Leha-Leha, Secangkir Jawa, aku berkenalan dengan orang-orang baru (yang akhirnya aku tahu, jika satu dua dari mereka adalah pembaca sekaligus penulis aktif, bahkan buku-bukunya terpampang rapi di Gramedia)

Lagi-lagi, benar sekali hadis yang pernah kubaca waktu lampau:

الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها ائتلف، وما تناكر منها اختلف

“Ruh-ruh itu adalah tentara yang berbaris. Yang saling kenal (cocok/sesuai), mereka akan saling bersatu; adapun yang tidak saling kenal (tidak cocok/tidak sesuai) akan berselisih (berpisah).”

Lewat satu hobi yang sama (membaca dan menulis), dipertemukanlah diriku dengan mereka para penulis, penyair, dan sastrawan.

Ramadan dan Toko Buku

Sampai tidak tahu harus ke toko buku yang mana saja, sebab toko buku di Jogja sangat marak-maraknya bahkan menjamur seantero kota.

Tapi, yang direkomendasikan untukku hanya beberapa toko buku saja, seperti Shiramedia, Buku Akik, Berdikari Book, Warung Sastra, Obral Buku Jogja, dan beberapa toko buku lainnya.

Dari satu toko buku ke toko buku lainnya, tak kutemukan toko yang tak ada pengunjungnya. Seluruhnya ada dan pasti ada. Setinggi ini ya ternyata, minat beli dan baca buku di kota istimewa ini.

Ah, barangkali penggalan lirik yang dibawakan Adhitia Sofyan dalam lagunya: Sesuatu di Jogja, benar-benar mewakili perasaanku.

Terbawa lagi langkahku kesana
Mantra apa entah yang istimewa
Kupercaya selalu ada sesuatu di Jogja.

So, Jogja benar-benar punya daya magis tersendiri. Jogja punya mantra tersendiri.

Ramadan dan Angkringan

Di Jogja, aku mulai memahami, jika sepanjang perjalanan (yang) hampir dua pekan ini, tak kudengar bunyi klakson dari para pengendara motor dan mobil; meski macet panjang, namun begitu teratur.

Oh, beginikah keteraturan dan keseimbangan itu? Orang Jogja setulus dan secantik itu untuk menunjukkan ke orang-orang luar jika Jogja benar-benar istimewa. Bahkan urusan kecil soal tidak membunyikan lakson meski macet panjang, mereka perhatikan, berbeda sekali dengan kota-kota metropolitan di kota-kota besar lainnya (sebut saja Jakarta, Surabaya, dan lainnya), yang macet sedikit langsung tuuuutt, tuuuuut… bunyi klaksonnya.

Ah iya, Angkringan.

Pernah sekali, dalan perjalanan pulang ke kos teman, kubertanya kepada seorang teman. Kenapa Jogja banyak sekali angkringannya? Jawabnya, sederhana. “Sebab, salah satu pemikat Jogja, ya itu, angkringannya. Angkringan itulah yang membuat Jogja tetap hidup.”

Mendengar jawabannya, aku hanya menganggukkan kepala, tanda paham dengan jawabannya.

Terakhir, kuberikan satu fakta tentang angkringan di Jogja, siapa tahu, Anda ada keinginan ke Jogja suatu hari nanti. Percayalah, di manapun Anda berada di Jogja, menu-menu di angkringannya tak sekalipun mengecewakan. WalLahu a’lam.

Tinggalkan Balasan