Dengan demikian, barokah dari pendekatan filsafat ilmu bisa dipahami prosesnya, baik itu dari aspek methaphysical, ontological, epistemological, maupun axiological-nya. Di pesantren, barokah menjadi pembahasan yang masyhur didengar oleh santri, dan dimaknai sangat tinggi kedudukannya.
Dari kacamata tersebut, penulis mengartikan aspek barokah menjadi sebuah nilai tinggi meski pada taraf tahsiniyat dan bukan dhoruriyyat. Dalam hipotesis penulis, barokah pada wilayah tahsiniyyat memerlukan pendekatan teori yang lain, dalam hal ini menggunakan pendekatan estetika. Dalam konteks ini, penulis mengistilahkan “Aesthetics Approach of Barokah”, yakni barokah dilihat dari pendekatan estetika.

Barokah secara matafisika adalah sebuah karunia kebaikan pada wilayah yang mendalihkan bersumber dari hal yang ghoib (supranatural), dalam hal ini Allah SWT. Atau, secara tidak langsung, penyebab berkah adalah Allah. Adapun, dalam hal barokah dari pendekatan estetika, perlu mendalihkan bahwa Allah maha indah. Nama Allah Azza wa Jalla ini disebutkan dalam sebuah hadits yang shahîh, dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُوْنَ ثَوْبُهُ حَسَناً وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قاَلَ: إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat biji debu. Ada seorang yang bertanya, “Sesungguhnya setiap orang suka (memakai) baju yang indah, dan alas kaki yang bagus, (apakah ini termasuk sombong?) Rasulullâh bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
Hadist tersebut menegaskan atas إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ, bisa diartikan bahwa Allah dengan segala kesempurnaan juga estetika (bernuansa islami).
Selanjutnya, paradigma yang dibangun oleh pesantren atas barokah adalah nilai luhur yang di situ memerlukan proses dan riyadhoh yang beraneka ragam. Secara umum, bisa melalui proses menimba ilmu dengan bentuk belajar yang meliputi membaca, mendengarkan, dan menulis (intelligence quotient).
Dengan demikian, mendekatkan diri kepada Sang Kholik dengan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya termasuk metode santri menimba ilmu (spiritual qoutient). Kemudian, memahami hubungan sesama saudara, empati, saling tolong menolong dalam kebaikan pun, menjadi modal proses belajar santri (emotional qoutient ).
