Sepenggal Kisah Putri Tukang Becak

Pak Rusdi menghentikan becaknya tidak jauh dari gerbang sekolah. Tatapan matanya segera meredup melihat ekspresi wajah anaknya yang murung. Padahal, ketika bertemu biasanya dia selalu menyapa ayahnya itu dengan senyuman. Bahkan kemarin dia meloncat-loncat kegirangan begitu melihat dirinya meraih nilai UN terbaik di sekolahnya.

“Kenapa kok murung, Nduk? Katanya kemarin kamu jadi juara, kok sekarang malah murung begitu?” pertanyaan Pak Rusdi diiringi rasa khawatir. Gadis kecil bernama Fastabiqul Khoirot itu seperti tidak mendengar pertanyaan ayahnya. Dia segera duduk di becak dan tetap membisu. Muka masamnya semakin kentara.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setibanya di rumah, gadis kecil itu segera merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya. Melihat tingkah anaknya yang tidak seperti biasa itu, Bu Alini mengerutkan dahi dan kemudian menyusul putrinya ke kamar. Fasta adalah sumber kebahagiaan bagi keluarga itu. Jika dia sedang berduka, maka sumber kebahagiaan itu telah redup. Dan redup pulalah cahaya kebahagiaan dalam keluarga itu.

“Kenapa, Nduk? Kok langsung tiduran?” tanya Bu Alini sambil duduk di sampingnya. Sepatu yang masih menggantung di kaki gadis itu dilepaskannya. Fasta tidak menyahut pertanyaan ibunya itu. Dia juga membiarkan ibunya melepaskan sepatu yang masih membungkus telapak kakinya. Kepalanya memeluk bantal. Muka gadis itu tenggelam ke dalamnya.

“Makan dulu Nduk. Nanti nasinya keburu dingin lho.”

Dan Fasta masih saja mendiamkan ibunya. Ibu muda itu menarik napas dalam-dalam.

“Fasta nggak lapar? Tadi makan apa di sekolah?”

“Makan angin.” Jawab Fasta ketus.

“Kok makan angin to Nduk? Sekarang makan dulu ya? Ibu masak ikan tongkol kesukaanmu lho.”

Gadis kecil itu tidak juga memberikan respons.

“Fasta sakit?”

Gadis itu menggeleng.

“Fasta nggak mau sekolah di sini,” tiba-tiba gadis itu bersuara. Suaranya tidak jelas karena wajahnya masih tenggelam ke dalam bantal.

“Apa Nduk? Bangun dulu dong biar suaranya jelas. Ibu kan tidak dengar kalau Fasta suaranya seperti itu.”

“Fasta nggak mau sekolah di MTs Al Barokah.”

“Lho kenapa kok tidak mau? Bukannya kemarin sudah didaftarkan gurumu ke sana? Di sana itu kamu nggak bayar lho Nduk, gratis. Ayah nggak perlu repot-repot mencarikan biaya untukmu lagi. Apalagi letaknya dekat. Ayah bisa antar-jemput kamu setiap hari. Kalau ke tsanawiyah negeri itu jauh. Fasta harus tinggal di kota. Nggak setiap hari bisa bertemu ibu dan ayah.” Bu Alini menjawab dengan lembut apa yang dilontarkan anaknya itu.

Gadis itu tidak menjawab. Tapi tidak berapa lama kemudian dia sesenggukan. Bu Alini mulai mengerti permasalahan anaknya. Ia lantas mengelus-elus punggung anak kecil itu. Mencoba menghibur kegelisahannya.

Tiba-tiba pintu kamar itu berderit. Pintu berbahan triplek itu kemudian mengeluarkan suara mirip kambing tercekik. Pak Rusdi mengintip anak dan istrinya dari celah pintu itu.

Fasta tengah berbaring. Anak kecil itu sedang berbicara sesuatu dengan ibunya. Langkah kaki Pak Rusdi terhenti di tengah pintu lagi. Lalu terdengarlah percakapan mereka.

“Aku tidak ingin sekolah di tsanawiyah negeri, Bu,” kata Fasta lirih. Tangisnya sudah mereda tapi sisa air matanya masih menggenang di pelupuk mata. Membuat matanya yang jernih itu berkilauan. Napasnya pun masih tersengal. Anak itu berbaring dengan kepala di pangkuan ibunya. Sang ibu mengelus rambutnya yang tumbuh lebat.

“Lalu kamu ingin meneruskan sekolah di mana sayang?”

“Di Jombang, Bu. Fasta ingin sekolah di pesantren sambil menghafal Al-Qur’an. Teman-teman Fasta banyak yang belajar ke sana juga Bu.”

Mendengar ucapan anaknya itu Pak Rusdi terpaku di tengah pintu.

* * *

“Bagaimana, Ta? Kamu sudah bilang pada ayahmu?” tanya Salma di suatu sore sambil melangkah pulang dari TPQ.

Tinggalkan Balasan