Bagi masyarakat Melayu di Patani, Thailand Selatan, bulan Syawal tidak hanya menjadi momen perayaan Idulfitri. Syawal juga menghadirkan tradisi khas yang dikenal sebagai hari Raya Enam atau dalam dialek lokal disebut Rayo Nea. Tradisi ini dirayakan pada tanggal 8 Syawal, yaitu sekitar satu minggu setelah Idulfitri.
Pada hari tersebut, masyarakat Melayu Patani melakukan sebagai aktivitas sosial dan budaya, seperti bersilaturahmi dengan keluarga, teman, dan kerabat, serta melakukan ziarah ke perkuburan. Tradisi ini tidak sifat keagamaan secara formal, tetapi memiliki makna budaya yang kuat dan diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, Hari Raya Enam juga sering disebut sebagai Hari Raya Orang Tua atau Hari Raya Ziarah.

Istilah Raya Enam berasal dari kebiasaan sebagian masyarakat yang menjalankan puasa sunah selama enam hari di bulan Syawal setelah Ramadan. Praktik ini berlandaskan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim. Dalam hadis itu disebutkan bahwa orang yang berpuasa Ramadan dan dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal akan mendapatkan pahala seperti berpuasa selama satu tahun. Nilai keagamaan inilah yang kemudian berakulturasi dengan tradisi lokal dalam bentok perayaan Hari Raya Enam.
