Sementara itu, laporan mengenai tingginya angka stunting, kesenjangan ekonomi, atau ancaman perubahan iklim hanya menjadi berita kecil yang cepat tenggelam. Padahal, dalam skala kepentingan publik, isu kesehatan dan kesejahteraan jauh lebih vital dibanding hasil pertandingan. Ini menunjukkan bahwa realitas sosial di dunia nyata sering kali kalah pamor dibanding realitas virtual yang dibentuk oleh trending topic.
Meski demikian, trending topic tidak sepenuhnya buruk. Ia bisa menjadi cermin cepat dari apa yang sedang dirasakan masyarakat. Ketika terjadi bencana alam, misalnya, trending topic bisa berfungsi sebagai alarm publik yang memobilisasi solidaritas.

Informasi mengenai kebutuhan logistik, lokasi pengungsian, atau nomor rekening donasi bisa menyebar dalam waktu singkat, menggerakkan orang untuk membantu meski dari jarak jauh. Begitu pula ketika ada kasus hukum yang dianggap janggal, trending topic bisa mengangkat suara-suara kecil agar didengar oleh penguasa. Dalam situasi seperti ini, daftar trending berfungsi sebagai termometer sosial yang menangkap suhu emosi masyarakat secara instan.
Masalahnya muncul ketika trending topic dijadikan satu-satunya patokan untuk memahami realitas. Kita menjadi terjebak pada apa yang viral, seolah-olah itulah kebenaran tunggal. Padahal, viralitas bukan ukuran validitas. Apa yang ramai dibicarakan tidak selalu benar, dan apa yang benar tidak selalu ramai dibicarakan. Jika masyarakat hanya terpaku pada trending topic, mereka rentan kehilangan kemampuan untuk memilah mana isu yang benar-benar mendesak dan mana yang sekadar hiburan digital.
Media massa arus utama pun menghadapi dilema serupa. Demi mengejar klik dan rating, mereka kerap ikut latah mengangkat isu-isu yang sedang trending tanpa memberi konteks mendalam. Akibatnya, siklus informasi menjadi semakin dangkal. Publik digiring untuk terus mengikuti sensasi, sementara persoalan mendasar tetap terabaikan. Fenomena ini memperlihatkan betapa kuatnya cengkeraman budaya viral terhadap cara kita memandang dunia. Alih-alih menjadi penyeimbang, media justru sering mempertebal bias viralitas dengan mengulang-ulang topik yang sebenarnya tidak esensial.
Lebih jauh, kita juga perlu mencermati bagaimana trending topic bisa dimanipulasi. Tidak semua yang viral tumbuh secara organik. Kehadiran buzzer, bot, atau akun-akun anonim bisa mendorong sebuah isu menjadi trending demi kepentingan politik atau ekonomi tertentu.
