Rebutan Jamus Kalimasada: Kisah Srikandi Mustakaweni

Melihat sikap Srikandi, Semar menjamin hal itu tidak akan terjadi. Semar juga berjanji akan menjelaskan kepada para Pandawa. Setelah mendapat jaminan dari Semar, Srikandi dan para Pandawa dapat menerima islah dan pernikahan Mustakaweni dengan Bambang Priyambodo..

Meskipun para Pandawa setuju atas pernikahan Mustakaweni dengan Bambang Priyambodo, namun kakak Mustakaweni,  Prabu Bumiloka, tetap tidak setuju. Bagi Prabu Bumiloka, islah berarti memupus balas dendam terhadap Arjuna yang telah membunuh bapaknya. Prabu Bumiloka terus mengobarkan api dendam dalam dirinya. Dia menyiapkan balatentara utuk menyerang Pandawa, hingga akhirnya dia mati di tangan Bima.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Cerita perebutan pusaka Jamus Kalimasada ini dapat menjadi tamsil untuk melihat realitas kekinian. Jika Jamus Kalimasada dimaknai sebagai legitimasi yang dapat membuat suatu kelompok menjadi digdaya, atau sumber kekuasaan, saat ini kita dapat melihat bagaimana kelompok kepentingan saling melancarkan intrik dan saling klaim telah mendapat legitimasi tersebut.

Ada yang menyamar menjadi resi, ada yang memakai topeng kebijakan laksana satria Pandawa untuk dapat mendapatkan Jamus Kalimasada. Ada juga yang mencatut nama Raja Puntadewa dari istana Amarta dengan mengaku dan menyebarkan isu sudah mendapat restu dan dukungan dari istana untuk mengambil pusaka Jamus Kalimasada. Mereka menggunakan berbagai cara, mulai menipu dan menyebarkan hoaks, memelintir informasi, sampai menebar fitnah dan intimidasi keada pihak lawan.

Narasi-narasi tajam dihamburkan memenuhi dunia medsos seperti panah yang dilontarkan dari busurnya. Sebagaimana halnya anak panah, narasi itu menghunjam hati dan menusuk perasaan masing-masing pihak. Memang tidak terlihat ada luka yang menganga dan darah yang mengucur, tapi luka itu ada di dalam hati, dalam jiwa, dan sakitnya melebihi luka fisik. Tidak seperti luka fisik yang bisa segera sembuh dengan jahitan dan antibiotik, luka hati lebih sulit diobati dan dipulihkan.

Tapi, bagaimanapun sengitnya pertempuran, kisah tersebut mencerminkan, pemenangnya adalah mereka yang mau islah, mau berbagi kasih dan cinta. Sedangkan, mereka yang tidak mau islah, terus menuruti nafsu dan egonya yang serakah, terus mengobarkan konflik dan permusuhan, akhirnya akan binasa, hancur dan mati terkubur bersama seluruh ambisi dan nafsu angkara.

Meski sekadar cerita wayang, namun kisah Srikandi Mustakaweni rebutan Jamus Kalimasada ini layak untuk dijadikan bahan muhasabah bersama saat menghadapi realitas yang terjadi saat ini.

Tinggalkan Balasan