Redefinisi Senioritas di Pesantren

Semakin hari, akan semakin terbiasa adanya senioritas di dalam lingkup santri dan dianggap hal remeh. Ini menimbulkan kesan di masyarakat bahwa attitude seorang santri akan terlihat semakin buruk. Dikarenakan sifat maupun sikap yang tertanam dan terbiasa dilakukan di pesantren akan terus dilakukan tanpa melihat kondisi dan situasi.

Misalnya, ketika liburan, ia akan bersikap seperti itu kepada saudaranya bahkan kepada kedua orang tua. Sehingga, citra pondok pesantren yang ia tempati menjadi buruk di kalangan masyarakat, karena tidak mampu mendidik akhlak yang baik kepada para santri. Padahal, kiai ataupun ustaz telah mengajarkan sesuai dengan ajaran agama dan kitab-kitab yang menjadi makanan setiap hari. Namun, hal ini akan menjadi sirna ketika lingkungan tidak mendukung untuk menerapkan ajaran atau ilmu yang diberikan oleh kiai atau ustaz.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Alasan yang selalu dilontarkan adalah sebagai ajang balas dendam. Karena ia pernah merasakan hal yang sama semasa menjadi santri baru atau santri lama yang masih menjadi anggota. Walaupun pada sisi lainnya, senioritas memiliki nilai postif. Seperti, mendidik yang lebih muda atau memberikan pemahaman atau tuntunan kepada santri baru yang belum mengenal lingkungan pesantren.

Oleh karena itu, santri senior saat ini atau yang nantinya akan menjadi senior haruslah bersikap mengayomi, mendidik, dan memperlakukan santri baru atau santri lainnya dengan akhlak yang baik. Jangan malah melakukan sebuah upaya membalas kejahatan yang pernah menimpa dirinya. Ketika hal ini dilakukan dengan baik, maka akan terbangun ekosistem yang nyaman dan tentram bagi santri baru khususnya.

Tinggalkan Balasan