Refleksi Diri: Pemberani dan Pecundang

Sedangkan, para pecundang dan penakut akan dilupakan bahkan dihinakan ketika telah tiada. Segala popularitas, kemewahan, dan jabatan yang dibanggakan saat masih hidup menjadi sirna dan sia-sia. Inilah ayat-ayat kehidupan. Banyak juga di antara mereka yang hancur dan dihinakan saat masih di dunia.

Terus terang, aku lebih respek dan kagum pada para pemberani sekalipun mereka dinista, dikucilkan, dan tak punya massa. Karena, orang-orang seperti inilah yang bisa menjadi pembuka pintu kebenaran dan perubahan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dan aku tak pernah hormat pada para pecundang yang takut kehilangan jabatan, popularitas, dan dukungan massa. Yang tega melakukan pengkhianatan, manipulasi, dan kezaliman untuk mempertahankan semua itu. Orang-orang seperti ini tak pernah berani jujur pada kebenaran dan keyakinannya sendiri. Jangankan membuka kebenaran, mereka justru menjadi hijab atas kebenaran meski yang diomongkan seringkali atas nama Tuhan dan kebenaran.

Ingin rasanya aku belajar pada para pemberani tentang makna sabar dan ikhlas dalam kehidupan. Aku juga ingin mengikuti jejak laku hidup mereka yang penuh makna. Tapi kerapuhan jiwa ini selalu membuatku gagal mewujudkan keinginan ini, meski sudah beberapa kali mencoba.

Tinggalkan Balasan