Selain itu, kebekuan hati dan kegelapan nuraniku membuatku tak bisa melihat jejak mereka. Meski, sejarah telah banyak mengajarkan dan ayat kehidupan telah nyata membuka mata kita, namun tetap saja aku kesulitan membedakan para pecundang dan pemberani. Batas keduanya seringkali sangat tipis dan samar.
Aku sering tersesat, karena menganggap pemberani sebagai pecundang, sehingga dengan pongah dan perasaan diri paling suci aku ikut-ikutan arus massa menghujat dan mencaci mereka yang sebenarnya pemberani. Demikian sebaliknya, kadang-kadang, bahkan seringkali, aku memuja dan mengidolakan para pecundang dan pengkhianat karena aku mengira mereka adalah para pejuang dan pemberani.

Dalam dunia yang makin riuh dengan tipu daya ini, aku merasakan seperti meniti di atas titian serambut dibelah tujuh untuk sekadar membedakan antara pejuang pemberani dengan pecundang dan pengkhianat. Dalam suasana seperti ini hanya kewaspadaan, ketulusan, dan kebersihan hati yang bisa menembus sekat yang membedakan antara pemberani dan pecundang.*
