Refleksi Kritis atas Krisis Ekologi di Pulau Sumatra

Kapitalisme dan Kemenangan Nafsul Lawwamah

Coba kita bertanya, untuk apa semua itu dilakukan (pembabatan hutan, penebangan pohon, konversi lahan, penggalian tambang)?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika penjelasannya untuk kepentingan rakyat, untuk bangsa, dan negara, maka jawaban itu nampaknya sangat sulit diterima. Sebab berbanding terbalik dengan realitas di lapangan. Di mana, daerah-daerah yang masuk sebagai wilayah garapan, justru penduduknya masuk kategori miskin di Indonesia (CNN Indonesia, 2024).

Maka, jawaban yang masuk akal adalah, semua aktivitas itu terorientasi pada kepentingan kelompok atau individu, yang ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dengan tanpa perasaan bersalah, mendagangkan tanah, air, dan kemanusiaan.

Karl Marx menyebutnya sebagai sistem kapitalisme yang bersifat ekspansif, eksploitatif, dan akumulatif. Meminjam kacamata Gus Dur, maka kondisi ini dapat dibaca sebagai kemenangan nafsul lawwamah. Jiwa yang rakus, serakah, dan penuh kegelisahan, telah berhasil dan terlembagakan dalam struktur kebijakan di negeri ini.

Di sisi lain, nafsul mutmainnah terkikis dari sanubari bangsa. Jiwa yang damai dan tentram, kian tersingkir dari tatanan negeri ini. Negara yang seharusnya untuk melindungi kedaulatan rakyat, justru ikut andil dalam mengeksploitasi rakyatnya, dan melanggengkan kekuasaan nafsul lawwamah.

Dalam suasana seperti ini, kita seolah didengungkan kembali ungkapan Sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia: Perjuangan kami lebih mudah, sebab musuh kami penjajah asing. Sementara kalian melawan bangsa sendiri.

Tinggalkan Balasan