Refleksi Maulid Nabi: Cara Nabi Membangun Masyarakat Madani

Strategi tersebut menemui titik temu, yang menghapuskan sistem tirani dan ekseklusif. Berkembang pula dakwah Nabi yang berhasil menghapuskan sistem diskriminasi dan egaliter dengan berpegang teguh pada kalam Allah. Kemudian Nabi mengembangkan pluralisme suku dan etnik sebagai jawaban fanatisme buta yang menjadi adat masyarakat Arab kala itu.

Peristiwa peletakan kembali Hajar Aswad adalah kisah kegemilangan Nabi Muhammad dalam meredam fanatisme kesukuan. Diceritakan ketika terjadi banjir besar yang meruntuhkan dinding Ka’bah, Hajar Aswad terjatuh. Banyak kabilah yang berdebat tentang siapa yang paling berhak meletakkan benda suci itu ke tempat semula. Maka datanglah tokoh tertua Quraisy, Abu Umayyah ibn al-Mughiroh al-Mahzumy dengan membawa solusi untuk menunjuk orang pertama yang masuk Ka’bah dari pintu Bani Syaibah sebagai sosok yang berhak meletakkan Hajar Aswad ke tempat semula.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Atas kehendak Allah, Nabi Muhammad menjadi orang pertama yang memasuki Ka’bah dari pintu Bani Syaibah. Nabi Muhammad dikabari atas peristiwa penting tersebut. Saat ingin meletakkan Hajar Aswad, Nabi Muhammad mengambil sorbannya dan meminta setiap kabilah secara bersamaan meletakkan Hajar Aswad ke tempat semula. Koalisi yang dilakukan Nabi ini membawa bangsa Arab ke babak baru dalam menata sistem sosio-kultural.

Selain pada aspek sosial, politik, dan demokrasi, Nabi Muhammad juga menggariskan unsur ekonomi untuk menata masyarakat Arab. Nabi mengambil prinsip egaliterianisme sebagai jalan pemerataan ekonomi. Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (Al-Isra: 26). Oleh Nabi, sistem kapitalisme dipinggirkan, sehingga semua masyarakat Arab dapat bergandengan tangan membangun kehidupan yang layak.

Tinggalkan Balasan