Rekam Jejak Bapak Pendidikan Nasional

Demi mewujudkan cita-cita terbesarnya dalam dunia pendidikan di Indonesia, maka Ki Hadjar Dewantara pun menambah ilmunya dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akta, sebuah ijazah pendidikan bergengsi bagi dunia pendidikan.

Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantra yang terkenal yaitu “Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani.” Semboyan itu berarti; di depan, seorang pendidik harus bisa menjadi teladan, di tengah murid, pendidik harus bisa memberikan ide, dan di belakang, seorang pendidik harus  bisa memberikan dorongan.  Semboyan ini digunakan dalam dunia pendidikan di Indonesia hingga sekarang. Ini kemudian dikenal sebagai Patrap Triloka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Salah satu penggalan dari semboyan tersebut yakni “tut wuri handayani,” digunakan dalam logo Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan  (Kemendikbud) Republik Indonesia, sebagai penghargaan bagi Ki Hajar Dewantara. Mengutip dari laman Kemendikbud, semboyan tersebut mengandung pesan agar pendidik tidak memaksakan kehendak kepada anak didiknya.

Ki Hajar Dewantara juga mempunyai tiga fatwa pendidikan yaitu, Tetep, Antep, Mantep. Artinya, dalam menjalankan sistem pendidikan, maka pertama-tama yang harus dibentuk-baik untuk guru dan murid adalah dengan membentuk ketetapan pikiran dan jiwa, memberikan jaminan pada keyakinan diri sendiri, dan membentuk kemantapan dalam memegang prinsip hidup yang diyakini.

Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional karena jasa-jasanya dalam bidang pendidikan ini lahir di Yogyakarta, pada 2 Mei 1889 dan meninggal di Yogyakarta, pada 26 April 1959. Nama lahirnya adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara pada usia 40 tahun. Ia merupakan keturunan langsung dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Harjo Surjo Soesroningrat atau Sri Paduka Paku Alam III.

Namun, seperti diceritakan dalam buku Sang Guru karya Haidar Musyafa (2015), mereka tidak diperbolehkan tinggal di dalam istana Puro Pakualam. Hal tersebut dikarenakan ayahnya menentang pemerintah Belanda, sehingga Gubernur Jenderal Belanda menyingkirkan keluarganya dari istana tersebut, dan ditempatkan di salah satu puri yang terletak persis di timur istana. Dengan begitu, Raden Mas Soewardi memiliki kesempatan untuk bergaul dengan teman-temannya dari berbagai kalangan.

Tinggalkan Balasan