Rekam Jejak Bapak Pendidikan Nasional

Keluarga Ki Hajar Dewantara adalah keluarga muslim yang taat menjalankan ajaran agamanya. Oleh karena itu, ayahnya memasukkannya ke sebuah pondok pesantren. Saat giat-giatnya belajar agama, ayahnya kemudian menjemput pulang dan memasukkannya ke sekolah formal bernama Europeesche Lagere School (ELS). Disana, Raden Mas Soewardi merasa hidupnya semakin tambah bermakna dan berwarna.

Berkat ilmu yang ia dapatkan dari pesantren dan sekolah formal tersebut, maka Raden Mas Soewardi mulai memikirkan nasib teman-temannya yang berasal dari kalangan jelata. Oleh karena itu, ia yang senang bergaul dengan rakyat biasa tersebut mulai menceritakan pelajaran-pelajaran yang ia peroleh dari ELS. Ini secara tidak langsung Raden Mas Soewardi telah menularkan ilmu dan menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada mereka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah menyelesaikan pendidikannya di ELS selama tujuh tahun, Raden Mas Soewardi muda melanjutkan sekolahnya di Kweekschool, yang mana sekolah tersebut menyiapkan murid-muridnya untuk menjadi guru. Tak berselang lama, ia pun pindah ke sekolah STOVIA, yakni sekolah kedokteran satu-satunya milik Govermen Hindia Belanda. Di sana, Raden Mas Soewardi dengan Tjipto Mangoenkoesoemo, Soetomo dan, Goenawan Mangoenkoesoemo, yang kemudian menjadi sahabatnya itu sama-sama membenci tindakan Pemerintah Hindia Belanda yang sewenang-wenang tersebut.

Setelah belajar di STOVIA, mereka berempat belajar kepada seorang Indo bernama Ernest Francois Eugene Douwes Dekker atau biasa disingkat dengan DD, yang juga sangat peduli kepada nasib rakyat jelata.

Berkat perjuangan dan sumbangsihnya pada masa-masa permulaan pendidikan di Indonesia, maka pada masa Pemerintahan Soekarno, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pengajaran Indonesia, atau sekarang disebut Menteri Pendidikan. Selain itu, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Hal itu dikukuhkan melalui Surat Keputusan Presiden RI No.305 tahun 1959. Ia juga tercatat mendapat gelar Doktor Kehormatan atau doktor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dedikasi dan semangat Ki Hajar Dewantara di dunia pendidikan selayaknya menjadi contoh bagi generasi muda saat ini. Sikapnya yang berani, bertanggung jawab, rela berkorban, cinta tanah air, displin, religius, jujur, dan pantang menyerah seharusnya menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi kita semua demi memajukan pendidikan bangsa Indonesia kedepan. Semangat nasionalisme dan patriotismenya juga dapat kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan