Relasi Islam Nusantara dan Budaya

Tak hanya itu, Sunan Kalijaga juga sangat toleran terhadap budaya lokal. Baginya masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya.Pendekatan budaya lokal adalah salah satu strategi jitu untuk mendekati masyarakat secara perlahan-lahan, sehingga mereka bisa meninggalkan kebiasaan lamanya. Dia tak pernah meminta upah dalam pertunjukannya, modal menonton adalah dengan mengucapkan kalimat syahadat.

Syahdan, rupanya tidak hanya Sunan Kalijaga, tapi Sunan Gresik juga melakukan penyempurnaan bentuk dan lakon wayang agar tidak bertentangan dengan agama Islam. Sunan Bonang pun juga sukses melakukan penyiaran agama Islam dengan melakukan penyempurnaan wayang dengan menggunakan seni musik gamelan, bonang, kenong, kempul dan dia juga menciptakan Tembang Macapat dan Suluk Wujil.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sementara Sunan Drajat juga berdakwah melalui kesenian. Salah satu karyanya adalah Tembang Pangkur yang isinya mengandung pesan untuk keselarasan rohani, dunia akhirat untuk memperoleh kesejahteraan hidup. Sunan Giri, murid Sunan Ampel mengembangkan budaya permainan tradisional dalam dakwahnya, seperti: Jetungan, Jemuran, Gula Ganti, Cublek-cublek Suweng, Tembang Asmaranda, Tembang Pucung, dan Ilir-ilir, yang mengandung pesan untuk menggunakan kesempatan hidup di dunia untuk bekal di akhirat.

Juga, Sunan Kudus berdakwah dengan menciptakan karya sastra berupa Tembang Maskumambang dan Tembang Mijil. Sementara Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati melakukan penyiaran Islam di Jawa Barat turut aktif mendukung sastra dan budaya di Kerajaan Demak. Demikian juga dengan Sunan Ampel yang dikenal melalui karya lagu Tombo Ati sebagai obat bagi hati yang gelisah.

Melalui karya sastra dan seni Nusantara yang dilakukan oleh Walisongo, akhirnya dapat menyentuh hati masyarakat Indonesia untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Islam dan Budaya

Dalam perbincangan mengenai perpaduan sebuah budaya satu dengan budaya lainnya, terdapat tiga istilah yang saling terkait yang sering digunakan, yaitu akulturasi, asimilasi, dan sinkretisasi. Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul ketika suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Arti akulturasi sendiri adalah proses mengenai adat, kepercayaan, ideologi dan tatanan dengan peralihan tingkah laku, dari satu kebudayaan menuju budaya yang lain seperti, dua kelompok sosial yang bebas bertemu dan bergabung.

Akulturasi pada Islam di Nusantara dapat dilihat, misalnya, pada gaya arsitektur Masjid Menara Kudus yang merupakan perpaduan antara budaya Islam dan budaya Hindu. Di Indonesia, kita tahu masjid merupakan salah satu simbol penting dalam penyebaran ajaran Islam. Berdirinya masjid di berbagai wilayah di Indonesia menginsyaratkan bentuk ekspresi kesalehan masyarakat pada daerah tertentu.

Berbicara tentang istilah akulturasi, tentunya akan bersamaan dengan istilah asimilasi dan sinkretisasi. Asimilasi adalah proses sosial yang timbul bila ada segolongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda saling bergaul secara intensif dan dalam waktu yang lama, sehingga budaya masing-masing berubah sifat khasnya dan menghasilkan budaya campuran karena adanya proses penyesuaian diri. Sementara asimilasi dapat dilihat pada orang-orang etnis Tionghoa yang sudah lama tinggal di Indonesia yang tetap berdialek China, namun tidak lagi asli karena sudah bercampur dengan bahasa Indonesia.

Sisi lain, arti kata sinkretisasi adalah penyerasian, penyesuaian, penyeimbangan antara dua aliran agama atau budaya. Tak dapat dimungkiri bahwa proses pertemuan dua budaya atau lebih akan berdampak pula pada sinkretisasi. Tak ada agama yang bebas dari sinkretisasi ketika bertemu dengan konteks budaya setempat. Misalnya sinkretisasi adalah percampuran agama Buddha dan agama Syiwa menghasilkan Buddha Mahayana; Budaya selamatan nyewu di Bumirejo (peringatan seribu hari kematian keluarga) adalah percampuran budaya Jawa, Sunda, dan Islam.

Tinggalkan Balasan