Budaya nyewu ini sudah jauh berbeda dengan ritual nyewu yang asli. Sesaji yang tadinya untuk leluhur berubah menjadi ditujukan kepada Rasullulah. Sinkretisme dianggap negatif karena berhubungan dengan gerakan Wahabi yang menumpas praktik-praktik yang bertentangan dengan “Islam murni”, padahal sinkretisme juga bagian dari metode penyampaian nilai-nilai Islam atau pribumisasi nilai-nilai Islam.
Ironisnya, menguatnya paham Islam transnasional yang bermusuhan dengan budaya dan produk lokal, malah kearab-araban dan sisi lain menguatnya gejala globalisasi budaya barat (kebarat-baratan) yang melanda kehidupan bangsa ini menimbulkan kehawatiran memudarnya semangat nasionalisme pada generasi muda. Hal ini perlu disikapi oleh agama-agama di Indonesia, khususnya Islam, agar menekankan sikap keberagamaan yang merangkul budaya dan kearifan lokal agar tidak punah dan goyah.

Kalau kita telisik, ternyata hubungan Islam dan budaya lokal secara positif adalah merupakan bagian dari sumber kearifan, sebagaimana sudah dijelaskan dalam Al-Quran 49:13. Bahkan, Al-Quran 10:47 sudah menjelaskan juga. Bahwa, budaya sebagai warisan hikmah ketuhanan yang diturunkan lewat nabi-nabi yang pernah diutus Tuhan sepanjang sejarah umat manusia (apalagi peninggalan budaya tersebut tidak bertentangan dengan agama justru mendatangkan kemaslahatan bagi banyak orang).
Beda halnya jika dilihat dari tasawufnya, bahwa Tuhan itu bermanifestasi atau mengejawantah dalam ciptaan-ciptaanNya. Dalam hal ini, setiap makhluk membawa dalam dirinya sifat Tuhan yang dikenal dengan paham tauhid wujudi atau meminjam bahasa Ibnu Arabi wahdah al-wujud. Tuhan dipahami memiliki dua sifat sekaligus; transenden dan imanen (imanensi Allah terlihat pada budaya). Budaya justru membawa kita pada pengenalan dan kedekatan kepada Tuhan, sehingga patut jika mayoritas orang Indonesia Muslim memelihara dan cinta pada budayanya sendiri.
Seiring dengan berkembangnya zaman, rupanya sudah terjadi beberapa akulturasi budaya di Indonesia. Pertama, periode awal (abad ke-5-11 Masehi). Pada periode ini masih menguatnya budaya Hindu dan Budha dan kebudayaan asli Indonesia sendiri terdesak, terbukti dengan ditemukannya berbagai macam patung dewa Brahma, Siwa, Wisnu, dan Budha yang tersebar di kerajaan-kerajaan seperti Tarumanegara, Kutai, dan Mataram Kuno.
Kedua, periode pertengahan (Abad ke-11-16 Masehi). Dalam periode ini, budaya Indonesia mulai menguat bersamaan dengan budaya Hindu Budha sehingga cenderung terjadi sinkretisme. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya peninggalan candi-candi yang bercirikan Hindu Budha, peninggalan zaman kerajaan di Jawa Timur (Kediri, Singasari, dan Majapahit).
Kita tahu bahwa Tantrayana adalah contoh aliran religi yang merupakan sinkretisme dari kepercayaan Indonesia asli dengan agama Hindu-Budha. Mereka mengakui dewa-dewa yang sama dengan Hindu, namun tidak mengakui sistem kasta seperti keyakinan Hindu sehingga dikeluarkan dari agama Hindu dan mereka memiliki pandangan yang sama dengan Mahayana (ajaran Budha yang mendewakan Buddha Sidharta).
Ajaran ini menyimpang dari Budha karena penggunaan minuman keras dan mengutamakan makanan-makanan lezat dan mewah. Padahal Budha melarang minuman keras dan berfoya-foya. Alih-alih demikian melarang minuman keras, dengan masuknya Islam abad ke-12-13, justru menawarkan budaya baru bagi masyarakat Indonesia dengaan menyesuaikan budaya lokal dan mengangkat nilai-nilai kemanusiaan yang setara dan gaya hidup sederhana.
Ketiga, periode akhir (Abad ke-16- Sekarang). Pada periode ini, unsur Indonesia lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya, sedangkan unsur budaya Hindu Budha semakin menurun. Candi tidak lagi dipakai dipakai sebagai pura, tetapi kepada Shang Hyang Widhi sebagai perwakilan Tuhan yang Maha Esa.
